Fenomena Partai Baru di Pemilu, Para Calegnya Harus Bisa Angkat Isu Lokal
Ia mencontohkan seperti Gerindra yang masuk parlemen tahun 2014, Nasdem yang masuk di tahun sama, serta PKS yang masuk tahun 1999 silam.
Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Yudhi Maulana Aditama
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Direktur Democracy Electoral and Empowerment Partnership (DEEP), Yusfitriadi, mengatakan bahwa tidak ada ukuran peluang bagi caleg partai baru yang masuk ke dunia politik kecuali tren.
Pria yang dikenal sebagai pengamat politik dan kebijakan publik ini mengatakan bahwa tren ini dari pemilu ke pemilu selalu ada.
Ia mencontohkan seperti Gerindra yang masuk parlemen tahun 2014, Nasdem yang masuk di tahun sama, serta PKS yang masuk tahun 1999 silam.
"Setiap dari pemilu ke pemilu ada tren baru partai masuk ke parlemen, otomatis dengan calegnya," kata Yusfitriadi usai menghadiri Diskusi Strategi dan Peluang Caleg Partai Baru di Cibinong Bogor, Jumat (23/11/2018).
Meski begitu, ia menjelaskan bahwa ada beberap hal yang harus dilakukan caleg dan partai baru untuk terjun dalam politik.
Seperti melalui partai politik, masyarakat dididik untuk cerdas memilih karena menurutnya, cerdas itu mustahil tanpa pendidikan.
Kemudian, lanjut dia, caleg juga harus mengangkat isu-isu lokal, bukan isu politik nasional yang ditarik ke lokal.
"Kemudian pola pendekatan harus mengakomodir budaya-budaya lokal. Kalau partai politik tidak mengusung budaya-budaya setempat, maka partai itu akan ditinggalkan. Tapi yang saya sampaikan yang lebih pasti adalah partai politik itu door to door datang ke masyarakat memahami permasalahan di masyarakat," ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/pengamat-yusfitriadi.jpg)