Tsunami di Banten dan Lampung

Pasca Tsunami Selat Sunda, Hunian Sementara Akan Dibangun di Pandeglang

Pemerintah masih melakukan penanganan darurat pascatsunami di yang menerjang lima kabupaten di sekitar Selat Sunda

Pasca Tsunami Selat Sunda, Hunian Sementara Akan Dibangun di Pandeglang
Tribunnews/JEPRIMA
Kondisi shelter Tsunami di Pandeglang, Banten, Sabtu (29/12/2018). Pembangunan shelter tsunami di Labuan, Pandeglang menghabiskan anggaran APBN senilai Rp 18 miliar, namun pembangunan tersebut dikorupsi. Kini gedung berlantai 3 dengan luas 2,456 meter persegi tersebut tampak tak terurus banyak coretan dinding khas pelajar memenuhi setiap sisi gedung. (Tribunnews/Jeprima) 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Pemerintah  masih melakukan penanganan darurat pascatsunami di yang menerjang lima kabupaten di sekitar Selat Sunda, pada akhir bulan Desember 2018.

Berdasarkan rapat koordinasi yang dipimpin Gubernur Banten, Wahidin Halim disepakati selesainya masa tanggap darurat pada (4/1/2019) maka dilanjutkan periode transisi darurat menuju peralihan selama 2 bulan yaitu (6/1/2019) hingga (6/3/2019). Selama masa ini akan dibangun hunian sementara (huntara).

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan Huntara dibangun untuk menampung pengungsi yang rumahnya rusak berat dan rusak ringan. Huntara diperlukan untuk meminimalisir gejolak sosial dan mengantisipasi musim hujan agar pengungsi dapat lebih nyaman.

"Diperlukan waktu selama 2 bulan untuk membangun huntara sebelum dilakukan pembangunan hunian tetap yang waktunya lebih panjang. Pemda Pandeglang akan mengajukan dana siap pakai ke BNPB untuk pembangunan huntara. Pengerjaan fisik huntara akan dilakukan oleh TNI," kata dia, Minggu (6/1/2019).

Dia menjelaskan, untuk perbaikan rumah rusak ringan Pemda Pandeglang dan Banten akan mengalokasikan anggaran untuk perbaikan sedangkan untuk perbaikan rumah rusak berat dan rusak sedang akan diusulkan melalui hibah rehabilitasi dan rekonstruksi ke BNPB.

Berdasarkan catatan BNPB, hingga Sabtu (5/1/2019) jumlah korban tercatat 437 orang meninggal dunia, 9.061 orang luka, 10 orang hilang dan 16.198 orang mengungsi.

Di Kabupaten Pandeglang terdapat 296 orang meninggal dunia, 3 orang hilang, dan 7.972 orang mengungsi. Sebanyak 1.071 rumah rusak berat dan rusak sedang, dan 457 rumah rusak ringan.

Sebelumnya, bantuan terhadap korban bencana alam Tsunami Selat Sunda ke Pandeglang, Banten, terus mengalir. Salah satu diantaranya datang dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) dan anggota Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI)

Mereka mengirim Tim Aksi Kemanusiaan Bencana Tsunami Selat Sunda ke Pandeglang Banten. Tim Aksi Kemanusiaan PA GMNI dipimpin oleh Desta Ardiyanto, mengantarkan bantuan dengan didampingi langsung oleh Ketua Steering Committee (SC) Tim Aksi Kemanusiaan, Tri Budiarto.

Dalam laporannya, Ketua Tim Penyalur Bantuan Bencana, Desta Ardiyanto menjelaskan bahwa DPP PA GMNI memberikan bantuan yang utamanya berupa kebutuhan pokok balita, perempuan dan dukungan kebutuhan untuk sarana pendidikan bagi anak-anak sekolah. Barang-barang tersebut dikirimkan sebanyak dua kendaraan truk menuju Pandeglang.

“Bantuan-bantuan tersebut adalah cerminan dari bagaimana DPP PA GMNI memandang keberadaan perempuan, seperti yang dikatakan Bung Karno dalam autobiografinya, “Sarinah (Perempuan) mengajarku untuk mencintai rakyat; rakyat kecil,”kata Ardiyanto

(Tribunnews.com, Glery Lazuardi) 

Editor: Damanhuri
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved