Cerita Dibalik Kopi Gunung Arca, Kopi Bogor Berkualitas yang Tersohor

Sebuah perkampungan di ketinggian sekitar 1000 Mdpl yang bernama Kampung Arca, Desa Sukawangi, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor

Tayang:
Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Damanhuri
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Kopi Gunung Arca 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, SUKAMAKMUR - Sebuah perkampungan di ketinggian sekitar 1000 Mdpl yang bernama Kampung Arca, Desa Sukawangi, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor tersimpan potensi bumi yang menjanjikan.

Di area ini, luasnya perkebunan lebih luas daripada pemukiman penduduk.

Cuaca di kampung ini juga cukup dingin dan kerap berkabut di setiap harinya karena berdekatan dengan kawasan Puncak Bogor dan berbatasan dengan Puncak Cipanas Cianjur.

Dikawasan inilah tumbuh kopi arabika yang kini dikenal kopi Arabika Gunung Arca didukung kondisi cuaca yang mendukung.

Salah satu petani Kopi Gunung Arca, Budi Irawan (53), ia mengaku datang ke kampung tersebut pada tahun 1996 silam.

"Warga dulu tanam bawang di sini, kerjasama dengan Belanda waktu itu. Saya juga sambil kerja sebagai juru tebang pohon," cerita Budi.

Budi menuturkan bahwa di Kampung Arca juga sudah ada perkebunan kopi arabika yang berusia puluhan tahun bahkan disebut-sebut sebagai peninggalan jaman Belanda.

Namun pengetahuan warga terkait tanaman kopi masih terbatas bahkan sebagian pohon kopi ditebang dan diganti menjadi tanaman sayuran yang dianggap lebih menguntungkan.

Kemudian pada tahun 2016, Budi mencoba merambah ke pertanian kopi dengan dibantu binaan pemerintah daerah dan belajar bagaimana merawat pohon kopi dan bagaimana memanen kopi yang berkualitas.

Bahkan, kata dia, pihak pemerintah waktu itu masih mendatangkan ahli-ahli untuk meneliti kualitas kopi di Kampung Arca.

"Kita kemudian ikut festival kopi pertama kali, di CCM (Cibinong City Mall). Waktu di CCM kopi itu punya 9 cita rasa, kata ahli kopi. Kemudian dilelang di sana, kita ada 4 kg, kopi kita dihargai Rp 2 juta per kg. Dari situ saya kaget lah, karena gak ngerti kopi, baru belajar," ujarnya.

Setelah saat itu, kopi Gunung Arca semakin dikenal sebagai Kopi Bogor yang berkualitas hingga terbentuklah beberapa kelompok tani kopi.

Sejak pertama kali dipasarkan, kata Budi pembeli hanya membeli 2 kg sebagai ajang coba-coba.

Namun, kini, Budi mengaku bahwa ia bisa menjual hingga 10 ton kopi yang ia kumpulkan dari petani-petani kopi kampung Arca yang lainnya.

"Selain pemetikan kopi oleh petani dipilih yang terbaik, diproses di sini kayak roasting dan sebagainya itu beda cara beda hasilnya. Hasilnya ada kopi Honey, Fullwash dan Natural. Kalau tahun kemaren yang paliny banyak mesen itu Honey," katanya.

Kopi tersebut, kata dia, dikirim ke cukup banyak cafe-cafe di berbagai daerah mulai dari Otten Coffee hingga kedai kopi artis Nino Fernandez.

Namun dibalik kesuksesan kopi Gunung Arca di mata konsumen, Budi mengaku masih memiliki kendala yakni permodalan.

"Saya beli dari petani untuk diproses dan sebagainya sampai dijual hanya mampu 10 ton kopi. Sedangkan pesanan banyak. Ada yang minta ekspor ke negara ini itu juga saya bingung. Makanya ini juga kita cari solusinya bagaimana. Untung kalau tahun kemarin ada orang yang mau bekerja sama memberikan tambahan modal," ungkapnya.

*foto: Naufal Fauzy

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved