Kasus Slamet Maarif Dihentikan Polisi, Ini Komentar Ketua Bawaslu RI

Abhan, heran dengan keputusan pihak kepolisian menghentikan kasus dan mencabut status tersangka Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif.

Kasus Slamet Maarif Dihentikan Polisi, Ini Komentar Ketua Bawaslu RI
Yanuar Nurcholis Majid/Tribunnews.com
Slamet Ma'arif saat berbicara mengenai persiapan kepulangan Habib Rizieq di Kantor DDII, Jakarta Pusat, Selasa (20/2/2018). 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -  Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI, Abhan, heran dengan keputusan pihak kepolisian menghentikan kasus dan mencabut status tersangka Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif.

Menurut Abhan, sebetulnya kasus dugaan pelanggaran Pemilu tersebut bisa diteruskan.

Kata dia, dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, terdapat istilah in absentia dalam proses penanganan sebuah perkara pemilu.

Artinya, sebuah perkara pemilu bisa tetap dilanjutkan tanpa perlu menghadirkan tersangka lantaran sudah terkumpul barang bukti yang cukup.

Sehingga keterangan dari tersangka tidak perlu lagi dikejar demi sebuah pengakuan.

Dalam hal ini, tugas penyidik dan penuntut umum membuktikan fakta dari alat bukti yang sudah terkumpul sebelumnya.

"Pengertian in absentia, sepemaham kami bahwa (kasus) itu bisa dilanjut tanpa menghadirkan tersangka, karena ada bukti. Namanya tersangka itu tidak harus dikejar sebuah pengakuan, tetapi tugas penyidik dan penuntut umum bisa membuktikan atas fakta alat bukti lainnya," kata Abhan di Kantor Bawaslu RI, Jakarta Pusat, Selasa (26/2/2019).

Abhan beranggapan, bila kasus dihentikan lantaran tak punya bukti cukup kuat, terlebih sudah dibahas sejak awal oleh seluruh pihak terkait, seharusnya pihak yang menangani bisa melihat dari awal apakah perkara tersebut lemah atau kuat.

Bukan di tengah perjalanan justru dihentikan.

"Kalau saat ini kasus sudah SP3, mestinya dalam pemahaman yang ideal bahwa ketika suatu kasus sudah dibahas sejak awal oleh tiga lembaga, mestinya enggak ada unsur. Kalau sudah tahu lemah jangan lanjut, kalau tahu kuat ayo lanjut, kira-kira itu kan. Kalau (butuh alat bukti) itu mah tanyakan saja ke pemohon," jelas dia.

Halaman
12
Editor: Damanhuri
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved