Breaking News:

Pilpres 2019

Singgung Rebutan Jabatan Presiden, Nasihat Alissa Wahid dari Gus Dur: Setinggi Apa Sih Presiden Itu?

Alissa Wahid melampirkan video pernyataan sang ayah, Gus Dur yang menyinggung perihal rebutan jabatan residen di Pilpres 2019

Penulis: Uyun | Editor: Yudhi Maulana Aditama
KOMPAS TV
Capres 02, Prabowo Subianto dan capres 01 Jokowi di debat Pilpres 2019 kelima, Sabtu (13/4/2019) 

Singgung Rebutan Jabatan Presiden, Nasihat Alissa Wahid dari Gus Dur: Setinggi Apa Sih Presiden Itu?

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Putri Gus Dur, Alissa Wahid melampirkan video pernyataan sang ayah, Abdurrahmahan Wahid atau akrab disapa Gus Dur yang menyinggung perihal rebutan jabatan untuk menjadi Presiden.

Seperti diketahui, Pemilu 2019 dan Pilpres 2019 ini menjadi ajang untuk berebut hati rakyat dan juga jabatan di kursi-kursi tertinggi, seperti DRD, DPD, DPR, hingga Presiden.

Jabatan tertinggi di negara Republik Indonesia adalah Presiden yang dalam Pilpres 2019 ini diperebutkan oleh Jokowi dan Prabowo Subianto.

Jokowi merupakan kali kedua mencalonkan diri menjadi Capres usai tahun 2014-2019 ini ia menjadi Presiden Indonesia ke-7 menggantikan SBY.

Di bursa Pilpres 2019, Jokowi menggandeng Maruf Amin dan menjadi Paslon urutan 01.

Sementara itu, Prabowo Subianto merupakan kali ke-4 dirinya bertarung di Pilpres.

Istri Komentari Sikap Prabowo di Pilpres 2019 , Andre Taulany : Mohon Dimaafkan Segala Khilaf

UPDATE Real Count Pilpres 2019 KPU pukul 07.00 WIB Data Masuk 7,83%: Jokowi 54,28%, Prabowo 45,72%

Dilansir TribunnewsBogor.com dari Kompas.com, pada tahun 2004 Prabowo Subainto sempat maju dalam konvensi calon presiden Partai Golkar, namun ia kalah.

Karena Pratai Golkar justru mengusung Wiranto dan Salahuddin Wahid.

Kemudian, di tahun 2009 Prabowo Subianto yang sudah mendirikan Partai Gerindra berniat melenggang menjadi Capres dengan menggandeng Ketua Umum PAN kala itu Soetrisno Bachir.

Sayangnya Prabowo saat itu tak mampu memenuhi persyaratan kursi dukungan.

Hingga kemudian, Prabowo mengubah haluan dan berlabuh dalam koalisi bersama PDI-P yang mengusung Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden.

Melalui perundingan yang alot, Prabowo Subianto akhirnya legowo dipasangkan dengan Megawati sebagai calon wakil presiden.

Namun pada Pilpres 2009, Megawati dan Prabowo Subianto gagal usai dikalahkan SBY - JK yang saat itu berhasil menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI.

Prabowo dan Megawati di Pilpres 2009
Prabowo dan Megawati di Pilpres 2009 ()

Tak patah arang, pada Pilpres 2014 Prabowo Subianto kembali maju menjadi calon presiden dengan menggandeng Ketua Umum PAN Hatta Rajasa.

Pasangan ini juga didukung oleh Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera ( PKS), dan Partai Partai Persatuan Pembangunan ( PPP).

Namun, lagi-lagi Prabowo Subianto menelan kekalahan. Pasangan Prabowo-Hatta harus mengakui keunggulan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Pasangan Joko Widodo - Jusuf Kalla menjadi pemenang dengan memperoleh suara sebanyak 53,13 persen. Sementara pasangan Prabowo-Hatta hanya memperoleh 46,84 persen.

Megalomania, Gangguan Kejiwaan yang Terobsesi dengan Kekuasaan, Ini 9 Ciri-cirinya !

Amien Rais Sebut Prabowo Unggul Telak di Jawa Timur, Ernest Prakasa Minta Mbah Minum Obat

Masih tak berputus asa, di tahun 2019 ini, Prabowo Subianto kembali maju dan kembali menantang Jokowi sebagai petahana.

Prabowo Subianto menggandeng Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Sandiaga Uno.

Pasangan nomor urut 02 ini diusung oleh empat partai, yakni Partai Gerindra, Partai Demokrat, PKS dan PAN.

Usai pencoblosan tanggal 17 April 2019, Prabowo Subianto kembali harus menelan pilu pahit.

Prabowo-Sandi di debat kelimaa Pilpres 2019
Prabowo-Sandi di debat kelimaa Pilpres 2019 (Youtube Najwa Shihab)

Hasil dari data Quick Count 10 Lembaga Survei hingga hasil Real Count sementara dari KPU menunjukkan Prabowo-Sandi ini kalah dari Jokowi-Maruf.

Hingga pukul 11.00 WIB, pasangan Jokowi-Maruf masih unggul 54,12 % suara. Sedangkan Prabowo-Sandi meruap suara 45,88 %.

Perhitungan suara di laman pemilu2019.kpu.go.id hingga Minggu (21/4/2019) pukul 11.00 WIB, suara yang masuk baru 8,73% dari total 830 ribu TPS.

Hasil akhir Pilpres 2019 sendiri akan diumumkan KPU pada 22 Mei 2019 mendatang.

Meski masih bersifat sementara, namun ternyata Prabowo Subianto sudah sangat percaya diri bisa melenggang ke tahta kursi nomor 1 di republik ini.

Ia bahkan sudah mendeklarasikan menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke-8.

Sandiaga Uno Dianggap Tak Etis Bila Kembali Jadi Wagub DKI, Gerindra : Akan Ke Kantor Wapres

Bongkar Kotak Suara, Ini Pengakuan Ketua PPS di Banyumas: Saya Tahu itu Tidak Boleh

Dengan suara yang lantang, Prabowo Subianto menyatakan bahwa ia dan Sandiaga Uno adalah Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk periode 2019-2024.

"Pada hari ini, Saya Prabowo Subianto menyatakan bahwa saya dan saudara Sandiaga Salahuddin Uno mendeklarasikan kemenangan sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia tahun 2019-2024," tegas Prabowo Subianto, dilansir TribunnewsBogor.com, Kamis (18/4/2019).

Menurut Prabowo Subianto, dirinya sudah yakin dengan hasil Real Count yang didapatkan dari hasil survei data internal yang menyebutkan bahwa ia dan Sandiaga Uno memperoleh suara 62%.

"Ini berdasarkan perhitungan lebih dari 62 persen perhitungan Real Count dan C1," tambahnya.

Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto didampingi Amien Rais menyampaikan pidato politiknya di hadapan para pendukungnya dalam acara Syukuran Kemenangan Indonesia di Kartanegara, Jakarta Selatan, Jumat (19/4/2019). Pada pidatonya Prabowo meminta kepada para pendukungnya untuk ikut menjaga formulir C1 di setiap kecamatan. Tribunnews/Jeprima
Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto didampingi Amien Rais menyampaikan pidato politiknya di hadapan para pendukungnya dalam acara Syukuran Kemenangan Indonesia di Kartanegara, Jakarta Selatan, Jumat (19/4/2019). Pada pidatonya Prabowo meminta kepada para pendukungnya untuk ikut menjaga formulir C1 di setiap kecamatan. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/JEPRIMA)

Menanggapi hal tersebut, putri mantan Presiden RI ke-4 Alissa Wahid menyinggung lewat sebuah video yang berisikan ucapan Gus Dur.

Gus Dur saat itu menyinggung mengapa semua orang berebut jabatan menjadi Presiden.

Lantas Gus Dur pun bertanya memangnya seberapa besar dan banyak gaji seorang Presiden di Indonesia ini.

"Cuma saya pikir lah iya, jabatan negara ini setinggi apa sih presiden itu? kok sampai harus meneteskan darah manusia.

Tapi kalau mengenai prinsip, mengenai alasan berdirinya negara, mengenai bentuk negara dan sebagainya masih mati saya lakukan. Loh gitu.

Ini ya orang NU, ulama ya begini caranya," ujar Gus Dur yang dilansir dari video Info Nusia, Minggu (21/4/2019).

"Tapi saya berpikir, apa sih tingginya jabatan Presiden itu, kok sampai harus meneteskan darah manusia Indonesia?!" - #Gusdur," tulis Alissa Wahid mengutip ucapan Gus Dur.
Alissa Wahid unggah video Gus Dur untuk menyinggung soal rebutan jabatan jadi presiden
Alissa Wahid unggah video Gus Dur untuk menyinggung soal rebutan jabatan jadi Presiden (Twitter Alissa Wahid)

Kemudian, Alissa Wahid pun merefleksikannya ke dalam kejadian Pemilu 2019 dan Pilpres 2019 ini.

Ia mengaku rindu dengan Gus Dur, karena ucapannya menurut Alissa Wahid patut dijadikan teladan.

"Dalam situasi kini, saat orang berebut jabatan, betapa saya rindu Bapak. Terimakasih Pak, telah meneladankan," tulis Alissa Wahid.

Lantas sebenarnya berapa gaji seorang Presiden RI?

Dilansir TribunnewsBogor.com dari Bey Machmudin via Kompas, Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Pers dan Informasi Presiden, besarnya nominal gaji Presiden dan wakilnya telah diatur oleh undang-undang negara.

Berdasarkan UU nomor 7 tahun 1978 tentang hak keuangan atau Administratif, Presiden dan Wakil Wresiden akan menerima gaji sesuai nominal yang sudah diatur oleh negara.

Dalam arti, gaji yang akan diterima Presiden dan wakilnya akan meliputi gaji pokok dan tunjangan operasional lain-lain selama masa jabatan.

Mari kita bahas perolehan gaji Presiden saat ini, yakni Jokowi, yang telah diatur oleh undang-undang negara Indonesia.

Capres nomor urut 01 Joko Widodo mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019). Debat itu mengangkat tema Ideologi, Pemerintahan, Pertahanan dan Keamanan, serta Hubungan Internasional. (ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK A)
Capres nomor urut 01 Joko Widodo mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019). Debat itu mengangkat tema Ideologi, Pemerintahan, Pertahanan dan Keamanan, serta Hubungan Internasional. (ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK A) (Kompas.com/ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK A)

Selama aktif menjabat sebagai Presiden, gaji pokok yang akan diterima adalah sebesar Rp 62,740 juta per bulan.

Bila ditambah dengan tunjangan dana operasional sebesar Rp 166 juta, maka gaji yang diterima seorang Presiden per bulannya bila mencapai Rp 229 juta.

Jika diakumulasikan selama setahun dengan tambahan dana operasional ini-itu, maka secara kasar gaji yang diterima Presiden Indonesia per tahunnya bisa capai angka Rp 752 juta lebih.

Meskipun sebelumnya sempat ada wacana gaji presiden akan naik menjadi Rp 553 juta, kabar itu ditepis oleh menteri keuangan Sri Mulyani.

Gaji Jokowi sebagai Presiden ini pun diketahui tidak mengalami kenaikan sejak era SBY. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved