May Day - Kisah Marsinah Pejuang Hak Buruh yang Dibunuh pada Masa Orde Baru

Mayat Marsinah ditemukan di hutan yang ada di Dusun Jegong, Desa Wilangan. Ada tanda-tanda bekas penyiksaan berat di tubuhnya.

May Day - Kisah Marsinah Pejuang Hak Buruh yang Dibunuh pada Masa Orde Baru
TRIBUNNEWS.COM/IRWAN RISMAWAN
Sejumlah buruh melakukan aksi renungan mengenang kematian Marsinah dan Sebastian di Kawasan Berikat Nusantara, Cakung, Jakarta Utara, Jumat (8/5/2015). 

Marsinah menjadi salah satu pejuang hak-hak buruh saat itu.

Pada awal tahun 1993, Gubernur KDH TK I Jawa Timur mengeluarkan sebuah surat edaran yang berisi imbauan kepada perusahaan agar menaikkan kesejahteraan para karyawannya dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20 persen dari gaji pokok.

Tentunya imbauan itu mendapatkan sambutan yang baik dari para karyawan.

Namun tidak bagi perusahaan, karena ini artinya beban pengeluaran mereka menjadi bertambah.

Pada pertengahan April 1993, karyawan di pabrik tempat Marsinah bekerja membahas surat edaran ini dengan resah sampai akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan unjuk rasa.

Unjuk rasa dilakukan pada tanggal 3 dan 4 Mei 1993. Tuntutan mereka adalah kenaikan upah dari Rp1.700 menjadi Rp2.250.

Satu di antara buruh yang aktif dalam unjuk rasa itu adalah Marsinah. Ia terlibat sejak rapat pembahasan rencana unjuk rasa tersebut.

Pada 3 Mei 1993, para buruh mencegah teman-temannya bekerja dan mogok total bekerja pada 4 Mei 1993.

Mereka mengajukan 12 tuntutan, termasuk perusahaan harus menaikkan upah karyawan sesuai dengan imbauan pemerintah.

Sampai 5 Mei, Marsinah masih aktif bersama teman-temannya dalam kegiatan unjuk rasa dan berbagai macam kegiatan perundingan.

Halaman
1234
Editor: Yudhi Maulana Aditama
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved