BREAKING NEWS - Gempa Bumi Terasa di Tasikmalaya, Warga Berhamburan ke Luar Rumah
Sejumlah warga Kecamatan Sukarame, Kabupaten Taksimalaya sempat berhamburan keluar rumah.
Penulis: widi henaldi | Editor: Yudhi Maulana Aditama
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Gempa bumi terasa di wilayah Tasikmalaya, Jawa Barat, Minggu (9/6/2019) sekitar pukul 16.30 WIB.
Gempa terasa hanya beberapa detik namun getarannya cukup terasa.
Sejumlah warga Kecamatan Sukarame, Kabupaten Taksimalaya sempat berhamburan keluar rumah.
"Sebentar, tapi cukup kerasa getaranmya," ujar Adang, warga Sukarame.
Belum diketahui pusat gempa dan berapa scala richter kekuatan gempa tersebut.
Pusat Gempa di Cilacap
Gempa terjadi di Cilacap, Jawa Tengah terasa hingga daerah Tasikmalaya, Jawa Barat sore ini, Minggu (9/6/2019).
Informasi yang dibagikan akun Twitter @InfoBMKG, gempa bermagnitudo 5,7 terjadi pada 16:32:22 WIB.
Pusat gempa berada di laut lepas di 8.51 LS,108.86 BT (88 km Barat Daya CILACAP-JATENG) dengan kedalaman 10 Km.
BMKG menyebut gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Sebelumnya diberitakan, warga Tasikmalaya merasakan goncangan gempa sekitar pukul 16.33 WIB.
Gempa terasa hanya beberapa detik namun getarannya cukup terasa.
Sejumlah warga Kecamatan Sukarame, Kabupaten Taksimalaya sempat berhamburan keluar rumah.
"Sebentar, tapi cukup kerasa getaranmya," ujar Adang, warga Sukarame.
Diawal Tahun 2019, Gunung Akan Krakatau Sudah Terjadi 4 Kali Gempa Letusan
Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) diselat Sunda terus menunjukan penurunan. Dari data aktivitas vulkanik sampai dengan pagi ini, selasa (1/1/2019).
Tidak lagi terdengar adanya suara dentuman dari aktivitas erupsi GAK seperti yang terjadi pada pekan lalu.
"Dari pukul 00.00 wib sampai dengan pukul 06.00 wib, tercatat hanya ada 4 kali gempa letusan dengan amplitudi 13-25 mm dan durasi 40-120 detik," kata petugas pos pantau GAK di desa Hargopancuran, Suwarno.
Kemudian gempa vulkanik dalam 1 dengan amplitudo 15, S-P : 2.8 detik dan dueasi 17 detik.
"Sampai saat ini status GAK sampai saat ini level III siaga. Dimana para pengunjung dan nelayan dilarang mendekat dalam radius 5 kilometer," kata Suwarno.
Tinggi GAK Tinggal 110 Meter
Volume dan tinggi puncak Gunung Anak Krakatau (GAK) terus menyusut hingga tersisa 110 mdpl (meter di atas permukaan laut) dari ketinggian semula 338 mdpl.
Hal ini diperkirakan karena adanya proses rayapan tubuh gunung api disertai laju erupsi tinggi sejak 24-27 Desember 2018.
Sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM, Antonius Ratdomopurbo, mengungkapkan tinggi Gunung Anak Krakatau berkurang drastis karena longsoran ke kaki lereng gunung pasca-erupsi.
"Kami melihat kondisi kemarin sore itu terkonfimrasi bahwa GAK itu tingginya yang semula 338 meter sekarang ini ya kira-kira hanya 110 meter," ujar Antonius di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Sabtu (29/12).
Antonius menjelaskan, dari pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM pada Jumat (28/12) pukul 00.00-12.00 WIB, teramati letusan dengan tinggi asap maksimum 200-300 meter di atas puncak kawah gunung.
Saat itu, abu vulkanik bergerak ke arah timur-timur laut dan cuaca berawan-hujan dengan arah angin dominan ke timur-timur laut.
Namun, pada pukul 14.18 WIB, cuaca cerah dan terlihat asap letusan tidak berlanjut.
Terlihat tipe letusan surtseyan karena magma yang keluar dari kawah GAK bersentuhan dengan air laut.
Dan, saat tidak ada letusan, puncak GAK tidak terlihat lagi.
Sebelumnya, PVMBG mencatat terjadi perubahan pola letusan pada pukul 23.00, Kamis (27/12), yaitu terjadinya letusan-letusan dengan onset yang tajam.
Dari Pos PGA Pasauran, posisi puncak GAK saat ini lebih rendah dibanding Pulau Sertung dan Pulau Panjang yang menjadi latar belakangnya. Adapun, tinggi Pulau Sertung adalah 182 meter dan Pulau Panjang adalah 132 meter.
Volume GAK yang hilang diperkirakan sekitar antara 150-180 juta m3, sementara volume yang tersisa saat ini diperkirakan antara 40-70 juta m3.
Berkurangnya volume puncak GAK ini diperkirakan karena adanya proses rayapan tubuh gunung api yang disertai oleh laju erupsi yang tinggi dari 24-27 Desember 2018.
Dengan jumlah volume yang tersisa tidak terlalu besar, maka potensi terjadinya tsunami relatif kecil, kecuali ada reaktivasi struktur patahan sesar yang ada di Selat Sunda.
Menurut dia, pola letusan GAK saat ini telah berubah dari strombolian, yaitu letusan yang disertai dengan lava pijar menjadi letusan surtseyan yang terjadi di permukaan laut.
"Letusan surtseyan ini sangat kecil memicu tsunami," jelasnya.
Walaupun demikian, potensi bahaya dari lontaran material lava pijar masih ada.
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga Jumat (28/12), tingkat aktivitas GAK masih tetap Level III atau Siaga.
Dari analisa awal, status tersebut tidak akan ditingkatkan ke level IV atau Awas.
"Jadi kalau misalkan di Merapi itu kita tetapkan level IV, itu sudah bergerak semua bus, semua truk, sudah bergerak (untuk evakuasi). Tapi, kalau di sana (GAK) nggak ada jalannya (pemukiman), ya mestinya nggak ada pengungsian," ujar Antonius.
Sementara itu, petugas Pos Pantau GAK mencatat aktivitas gunung api yang berada di Selat Sunda itu juga relatif tenang.
Berdasarkan data vulcano aktivity report (Magma-VAR) sampai pukul 06.00 WIB, Sabtu, terpantau asap berwarna kelabu dengan intensitas tipis. Selain itu, tidak lagi terdengar suara dentuman.
"Berdasarkan data tercatat ada aktivitas kegempaan letusan sebanyak 43 kali dengan amplitudo10-25 mm dan durasi 80-160 detik," ujar Andi Suardi, Kepala Pos Pantau GAK di Desa Hargo Pancuran, Sabtu.
Sementara itu, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhamad Sadly, dalam keterangannya menyebut masih aktifnya GAK mengakibatkan masih ada potensi membangkitkan tsunami.
"Berdasarkan hasil pemotretan udara oleh TNI AU dan BMKG, diketahui Gunung Anak Krakatau masih aktif, masih berpotensi membangkitkan tsunami," kata Sadly.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada serta menghindari aktivitas di pantai/pesisir Selat Sunda dalam radius 1 km dari tepi pantai dan tak mendekat dalam radius 5 km dari kawah.
Masyarakat yang tinggal di Pulau Sebesi, yang berjarak 17 km dari GAK, sudah dievakuasi.
"BMKG beserta Badan Geologi dengan dukungan TNI dan Kementerian Koordinator Kemaritiman masih tetap terus memantau, dan akan terus menyampaikan informasi perkembangannya," ujarnya.
Aktivitas Menurun
Badan Geologi Kementerian ESDM juga mencatat aktivitas GAK terus menurun pada Jumat (28/12) pukul 14.18 WIB.
Penurunan tersebut ditandai dengan berhentinya letusan asap. "Kemarin (Jumat) sore itu, terlihat dan terkonfirmasi bahwa Gunung Anak Krakatau jauh lebih kecil dari sebelumnya," ujar Antonius.
Antonius menambahkan letusan GAK yang terjadi saat ini bersifat impulsif, yakni tidak ada asap keluar meski tetap aktif.
Meski begitu, warga masih diimbau untuk tetap berada pada jarak aman minimal 5 kilometer dari lokasi karena statusnya masih di level III atau Siaga.
"Disarankan tidak masuk ke kompleks Krakatau," imbuhnya.
Nelayan Lampung Saksikan Gunung Anak Krakatau Terbelah hingga Picu Tsunami
Kejadian detik-detik Gunung Anak Krakatau terbelah lalu tsunami muncul di Selat Sunda, Sabtu (22/12/2018), ternyata disaksikan oleh nelayan asal Lampung.
Adalah nelayan bernama Puji (19) yang salah satunya menyaksikan peristiwa mengerikan tersebut.
Saat itu, Puji sedang mencari ikan bersama 14 nelayan lainnya yang sempat camping di Gunung Anak Krakatau sebelum tsunami.
Dari 15 nelayan, tersisa 4 termasuk Puji yang berhasil menyelamatkan diri dari tsunami dan letusan Gunung Anak Krakatau.
"Ya itu ngga ada tanda-tanda sama sekali kalau mau kejadian Gunung Anak Krakatau mau meletus. Posisi saya lagi di tengah laut, sekitar 700 meter dari Anak Krakatau lagi mencari ikan," kata Puji melansir dari Youtube Lampung TV.
Puji dan belasan nelayan lainnya memahami kondisi Gunung Anak Krakatau sedang aktif.
Tetapi, mereka tak mengira kalau Gunung Anak Krakatau akan meletus dahsyat karena situasinya seperti hari biasanya.
Puji pun melihat jelas dinding Gunung Anak Krakatau pecah dan jatuh ke laut lalu menimbulkan tsunami.
Waktu itu yang saya lihat paling jelas meletusnya bukan di bagian atas, tapi di samping. Meletusnya di bagian samping, lahar-lahar mencar semua," ujarnya.
Tsunami terjadi setelah belahan Anak Krakatau jatuh ke laut hingga menimbulkan 3 gelombang tinggi.
"Terus bagian atasnya ambruk, nah 5 menit kemudian timbul ombak tsunami. Ada 3 ombak itu yang besar dan yang paling besar ombak ketiga," katanya.
Menurut Puji, tingginya gelombang tsunami di tengah laut mencapai 12 meter.
Gelombang tsunami itu lantas menghancurkan perahu Puji dan nelayan lainnya.
Beruntungnya, mereka masih bisa mengapung di tengah laut menggunakan bongkahan perahu.
(Tribun Lampung Dedi Sutomo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/ilustrasi-gempa-bumi1.jpg)