Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi di 14.000 Dolar AS Per Troy Ounce

Bahkan, secara year to date (ytd) harga jual emas naik 9,74% atau berada di level US$ 1.282,49 per ons troi.

Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi di 14.000 Dolar AS Per Troy Ounce
Tribun Jateng/Wahyu Sulistiyawan
Staf Butik Emas PT Aneka Tambang Tbk di Jalan Pemuda, Kota Semarang, merapikan koleksi logam mulia di display, Kamis (19/5/2016). 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Harga emas semakin berkilau pada perdagangan hari ini. Meski sempat terkoreksi hingga level US$ 1.382 per ons troi pada Jumat (21/6/2019), nyatanya kemilau si kuning tak tertahankan sampai ke level US$ 1.400 per ons troi.

Pada perdagangan hari ini, Senin (24/6/2019) pukul 17.42 WIB, harga emas untuk pengiriman Agustus 2019 di Commodity Exchange naik 0,56% ke US$ 1.407,45 per ons troi dari posisi akhir pekan lalu pada US$ 1.399,63 per ons troi. 

Bahkan, secara year to date (ytd) harga jual emas naik 9,74% atau berada di level US$ 1.282,49 per ons troi.

Harga emas masih dalam tren naik lantaran The Fed memberikan indikasi pemangkasan suku bunga pekan lalu.

Selain mengisyaratkan pemotongan suku bunga acuan dalam waktu dekat, The Fed juga merevisi turun proyeksi inflasi (PCE inflation) untuk tahun ini dan tahun depan, sehingga memperkuat kemungkinan pemangkasan suku bunga. 

Analis PT Rifan Financindo Berjangka Puja Purbaya Sakti mengatakan sentimen dari The Fed membawa para investor terus berspekulasi hingga menyebabkan emas diperdagangkan di level tertingginya sejak tahun 2013 silam.

Lebih lanjut dia bilang, pasar masih tenggelam di dalam sikap easy money policy yang diambil oleh The Fed dan European Central Bank (ECB) pada minggu lalu. 

Pasar saham mengalami rally, imbal hasil obligasi pemerintah telah jatuh dan juga dollar Amerika Serikat (AS) sedikit turun dengan the greenback berada dalam kondisi melemah yang berarti bullish bagi pasar komoditi termasuk logam mulia emas.

Bahkan kata Sakti, emas mendapatkan suntikan adrenalin dengan kabar lebih banyak uang yang akan digelontorkan di sistem keuangan dunia yang berarti akan ada lebih banyak permintaan konsumen untuk komoditi. 

Faktor lain yang membuat harga logam mulia melesat tajam adalah sikap dua Bank Sentral mata uang utama dunia yang juga dovish, yaitu ECB dan Reseve Bank of Australia (RBA).

Halaman
12
Editor: Damanhuri
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved