Masuk Perangkap, Muncikari Pijat Plus-plus Sesama Jenis Berhasil Tangkap Polisi

AKP Faruk Rozi menuturkan, awalnya polisi menemukan iklan terkait jasa pijat tersebut dari media sosial.

Masuk Perangkap, Muncikari Pijat Plus-plus Sesama Jenis Berhasil Tangkap Polisi
Tribunnews.com/Ilustrasi
Ilustrasi Pijat 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Aparat Polres Pelabuhan Tanjung Priok menangkap muncikari pijat plus-plus sesama jenis berinisial UK (30), Selasa (25/6/2019).

UK ditangkap di sebuah hotel di kawasan Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara usai polisi berpura-pura menjadi pemesan jasa pijat yang pelaku tawarkan.

Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Priok, AKP Faruk Rozi menuturkan, awalnya polisi menemukan iklan terkait jasa pijat tersebut dari media sosial.

"Pada hari Rabu (19/6/2019), anggota Opsnal Unit 3 melakukan Patroli Cyber di medsos menemukan sebuah akun dengan nama 'Pijit Sensual' yang dikelola pelaku," kata Faruk, Rabu (26/6/2019).

Cerita Pegawai Pijat Plus-plus, Berpakaian Minim - Dapat Jatah Rp 100 Ribu Setiap Layani Pelanggan

Menindak lanjuti temuan tersebut polisi berpura-pura memesan dua orang terapis pijat yang ditawarkan UK, yang salah satunya adalah pelaku sendiri.

Setelah terjadi tawar menawar, pelaku pun sepakat untuk bertemu di sebuah hotel di kawasan Sunter.

"Pelaku bersama temannya, WH (saksi). Kemudian kami melakukan penangkapan di kamar hotel, di mana saksi dalam keadaan telanjang di dalam kamar hotel," ucap Faruk.

Faruk menuturkan, pelaku mematok tarif Rp 1,5 juta untuk sekali bermain. Pendapatan dibagi dua, di mana pelaku mendapatkan Rp 1 juta dan terapis yang ia tawarkan mendapatkan Rp 500 ribu.

"Dia mulai kurang lebih satu setengah tahun yang lalu lah mulai menjadi muncikari pijat sesama jenis," kata Faruk.

Adapun barang bukti yang diamankan dari penangkapan pelaku antara lain uang tunai Rp 1,3 juta, lima buah kondom, serta sepotong celana dalam milik pelaku.

Akibat perbuatannya, UK dijerat pasal 2 ayat (1) UU RI No. 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

"Ancaman hukumannya minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun penjara," tambah Faruk.

(TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino) 

Editor: Damanhuri
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved