Mengukur Peluang Bima Arya Jadi Menteri, Mungkinkah Dilirik Jokowi ?

Meski isu menteri muda di Kabinet Jokowi cukup kencang di kancah nasional, namun nama Bima Arya tak kunjung disebut.

Mengukur Peluang Bima Arya Jadi Menteri, Mungkinkah Dilirik Jokowi ?
Dokumentasi Humas Mendagri.
Presiden Jokowi jajal MRT bareng Wali Kota Bogor, Bima Arya 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Desas-desus Wali Kota Bogor Bima Arya melenggang menjadi menteri di kabinet Jokowi terdengar sayup di Kota Hujan

Isu Bima Arya bakal didapuk menjadi menteri di kabinet Jokowi muncul sejak Pilwakot 2018 lalu

Ditambah lagi Jokowi secara terang-terangan menyebut bakal memilih menteri muda.

Meski isu menteri muda di kabinet Jokowi cukup kencang di kancah nasional, namun nama Bima Arya tak kunjung disebut.

Pengamat Politik yang juga Direktur Democracy And Electoral Empowerment Partnership Yusfitriadi berpendapat peluang Bima Arya untuk menjadi menteri di kabinet Jokwoi sangat kecil

Bima Arya sebagai kader partai hadir dalam acara 'Speak up Satukan Suara' dalam dukungan terhadap Pasangan Calon Presiden nomor urut 1 Joko Widodo - Maruf Amin di Puri Begawan, Kota Bogor, Jumat (12/4/2019) malam.
Bima Arya sebagai kader partai hadir dalam acara 'Speak up Satukan Suara' dalam dukungan terhadap Pasangan Calon Presiden nomor urut 1 Joko Widodo - Maruf Amin di Puri Begawan, Kota Bogor, Jumat (12/4/2019) malam. (TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy)

"Adanya peluang karena Bima merupakan pemimpin daerah yang berusia muda, dan salah satu visi jokowi adalah kabinet dari unsur kelompok milenial, namun ada beberapa point yang melemahkan peluang Bima untuk masuk ke dalan kabinet Jokowi," katanya Jumat (5/7/2019).

Yusfitriadi menilai bahwa Bima Arya masih minim prestasi dalam mengelola Kota Bogor.

Tak hanya itu, Yusfitriadi juga menyoroti perolehan suara Jokowi dan Maruf Amin yang mengalami kekalahan di Kota Bogor.

Dari hasil penghitungan Real Count KPU, suara Jokowi-Maruf Amin di Kota Bogor sebesar 37,18 persen

Sedangkan Prabowo-Sandi memperoleh suara hingga 62,82 persen

Calon Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menyampaikan pidato kemenangannya dalam Pilkada 2018 di posko kemenangan yang beralamat di Jalan Pangrango Bogor, Rabu (27/6/2018).(KOMPAS.com/Ardito Ramadhan D)
Calon Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menyampaikan pidato kemenangannya dalam Pilkada 2018 di posko kemenangan yang beralamat di Jalan Pangrango Bogor, Rabu (27/6/2018).(KOMPAS.com/Ardito Ramadhan D) (Kompas.com)

"Selain tidak masuk ke dalam tim untuk memenangkan Jokowi, Bima juga sangat kecil kontribusi untuk raihan suara di Kota Bogor, andaipun pada detik-detik akhir Bima mendukung Jokowi, saya melihatnya lebih pada mendesak waktu pelantikan, agar segera dilantik sebagai walikota," katanya.

Tak hanya soal kontribusi, Yusfitriadi menimbang pada aspek partai politik yang mendongkrak Bima Arya dan Dedie A Rachim terpilih menjadi Wali Kota Bogor pada Pilwalkot Bogor 2018 lalu

Partai pengusung Bima Arya dan Dedie A Rachim diantaranya Golkar, Demokrat, Nasdem, PAN, dan Hanura.

"Sehingga dengan kondisi di atas, tidak ada poin penting yang menjadikan Bima Arya mempunyai peluang besar untuk menjadi menteri di kabinet Jokowi," ucapnya.

Penulis: Lingga Arvian Nugroho
Editor: Ardhi Sanjaya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved