Ditanya Soal Setya Novanto Pindah Lagi ke Lapas Sukamiskin, Kepala Rutan Gunungsindur Tertawa

Kepala Rutan Gunungsindur, Agus Salim enggan memberikan komentar terkait kembali pindahnya Setnov ini.

Ditanya Soal Setya Novanto Pindah Lagi ke Lapas Sukamiskin, Kepala Rutan Gunungsindur Tertawa
Kompas.com
Mantan Ketua DPR, Setya Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (18/9/2018).(KOMPAS.com/ABBA GABRILLIN) 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, GUNUNGSINDUR - Terpidana kasus korupsi E-KTP, Setya Novanto (Setnov) dikabarkan kembali ke Lapas Sukamiskin setelah belum lama dipindahkan ke Rutan Gunungsindur karena kedapatan pelesiran.

Kepala Rutan Gunungsindur, Agus Salim enggan memberikan komentar terkait kembali pindahnya Setnov ini.

Saat dikonfirmasi TribunnewsBogor.com via sambungan telepon, Agus tidak memberikan komentar apapun namun sempat sedikit tertawa.

"Yaa ...," kata Agus dilanjut sedikit tertawa dan tak melanjutkan perkataannya sampai kemudian sambungan telepon tiba-tiba terputus saat dihubungi TribunnewsBogor.com, Selasa (16/7/2019).

Saat dihubungi kembali, beliau sama sekali tak mengangkat telponnya.

Meski begitu, kabar kembalinya Setnov ke Lapas Sukamiskin dibenarkan oleh Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat, Abdul Aris.

Dia mengatakan bahwa setelah 1 bulan mendekam di Rutan Gunungsindur, Setnov kembali pindah ke Lapas Sukamiskin pada Minggu (14/7/2019) lalu.

Alasan pertama Setnov kembali pindah ke Sukamiskin adalah penyakitnya.

"Kan dia sakit, untuk pengobatannya lebih representatif di Lapas Sukamiksin dibandingkan di ‎Rutan Gunung Sindur," kata Aris.

Kemudian alasan lainnya adalah Setnov ketakutan dengan tahanan lain saat ditahan di Rutan Gunungsindur tersebut.

"Selama seminggu dia di sana dia ketakutan‎. Seperti, enggak bisa tidur karena takut. Dia cerita ke petugas di sana, bahwa dia merasa ketakutan. Rutan Gunung Sindur ‎itu khusus teroris dan bandar narkotika, ke sana dia terapi. Di sana super maksimum. Ketakutan karena mungkin pemikiran dia saja, kan komunitas tahanannya juga beda," terang Aris.

Penulis: Naufal Fauzy
Editor: Ardhi Sanjaya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved