Breaking News:

Cara Tepat Mengatasi Hipotermia Saat Mendaki Gunung

Adi Seno juga memberikan tips untuk menghindari hipotermia, yakni pendaki harus mengenakan pakaian dan perlengkapan yang sesuai.

Editor: Vivi Febrianti
(KOMPAS/Iwan Setiyawan)
Keindahan kaldera Gunung Rinjani dengan Danau Segara Anak dan gunung anakan Barujari menjadi salah satu daya tarik wisata di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. 

"Jika ujung-ujung tubuh, seperti tangan, kaki, telinga, dan hidung terasa beku, itu awal hipotermia. Bisa juga dalam lingkungan es salju sengatan beku atau frost bite. Hipotermia ini tidak terjadi tiba-tiba. Selalu ada gejala," kata Adi Seno.

Adi Seno juga memberikan tips untuk menghindari hipotermia, yakni pendaki harus mengenakan pakaian dan perlengkapan yang sesuai.

Pendaki juga sebaiknya menghindari cuaca ekstrem dengan berlindung di tenda. Selain itu, asupan yang dikonsumsi harus cukup sekitar 2.000 hingga 4.000 kalori.

Jika terjadi badai di ketingian lebih dari 5.000 meter dengan kecepatan angin mencapai 100 km per jam, satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri adalah berlindung hingga badai reda.

Pendaki juga bisa bergerak karena akan menghasilkan panas yang tersimpan dalam pakaian pelindung yang memadai, seperti jaket dan sarung tangan.

"Jika bergerak harus tahu arah dan tujuannya serta ada perlindungan. Saat bergerak memang cadangan energi tersalurkan, tapi bisa ditambah dengan konsumsi snack. Bergerak ini juga untuk mempercepat ke tempat terlindung," ungkapnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Berkaca dari Cerita Viral Pendaki, Ini Tips Cara Mengatasi Hipotermia Saat Mendaki Gunung"

Editor : Rachmawati

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved