Breaking News:

KH Maimun Zubair Wafat

Kisah Haru Nyai Heni, Istri Mbah Moen yang Hanya Bisa Saksikan Pemakaman Dari Kejauhan

Kalimat istighfar tak henti keluar dari bibirnya yang bergetar, seakan ingin menguatkan hati atas kepergian Sang Suami yang tiba-tiba.

Editor: Yudhi Maulana Aditama
MCH2019
Nyai Heni Maryam saat menyaksikan pemakaman suaminya KH Maimoen Zubaer dari balik pagar besi pemakaman Ma’la. Nyai Heni dilarang mendekat ke pusara Mbah Moen karena aturan di Arab Saudi yang melarang perempuan masuk ke makam. 

"Bu Nyai mendampingi almarhum sejak jam 03.00 pagi tadi, waktu Kyai dibawa ke RS," ujar dokter yang selalu berada di samping Bu Nyai.

"Jam 04.00 pagi, saat kami menunggu di luar ruang rawat almarhum, tiba-tiba hujan di Kota Makkah. Kami semua gak tahu kok ya menangis semua. Bu Nyai juga. Mbah Kyai kepundut pukul 04.17," imbuhnya.

Pemakaman Mbah Moen di Pemakaman Ma'la
Pemakaman Mbah Moen di Pemakaman Ma'la (tribunnews.com/Muhammad Husain Sanusi)

Jadi tak heran bila Bu Nyai pun ingin melihat di mana terakhir kali belahan hatinya terakhir disemayamkan. Maka, di sinilah kami. Berada di bawah langit Makkah, di balik pagar pemakaman Ma'la.

Waktu terus bergulir makin siang. Beberapa kerabat mulai membujuk Bu Nyai untuk beranjak dari tempatnya.

"Sudah bisa pulang bu? Istirahat yuk di apartemen?," bujuk salah satu kerabat.

"Sebentar, saya belum lihat," tuturnya lirih.

Bu Nyai ternyata ingin melihat pusara Kyai. Pandangannya terhalang oleh kerumunan orang yang masih memadati areal pemakaman. "Bapak-bapak tolong minggir-minggir... Bu Nyai ada di sini, Bu Nyai ingin melihat. Tolong minggir," teriak salah seorang santri yang juga berada di luar pagar Ma'la.

Putra Mbah Moen Temui Habib Rizieq Shihab di Mekkah

Begini Suasana Pemakaman Mala Tempat Mbah Moen Dimakamkan, Tumpukan Batu Jadi Pengganti Nisan

Kerumunan itu pun mulai bergeser. Tak lama, tampak sebidang tanah datar dengan dua batu sebagai penanda. Di sana jasad Sang Kyai besar disemayamkan terakhir kali. Ya, kuburan di tanah Arab memang tak seperti di tanah air yang berupa gundukan disertai papan nisan saja.

Melihat itu airmata Bu Nyai makin menderas. Tangannya kembali menengadah, lantunan doa makin keras ia ucapkan. Allahummaghfirlahu...

Bu Nyai berulang kali memohon ampunan bagi sang kekasih hati. Ah, jika tak ada iman pada Sang Maha Cinta, bagaimana seorang istri dapat melepas suaminya tercinta.

(Tribunnews.com/ Muhammad Husain Sanusi Dari Makkah)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved