Kapolda Metro Jaya Sebut Waspadai Penyebaran Radikalisme Sasar Mahasiswa

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono mengingatkan bahaya penyebaran radikalisme yang menyasar masyarakat terutama para mahasiswa

Kapolda Metro Jaya Sebut Waspadai Penyebaran Radikalisme Sasar Mahasiswa
TribunJakarta.com/Jaisy Rahman Tohir
Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol. Gatot Eddy Pramono selepas memberikan kuliah umum di Politeknik Keuangan Negara (PKN) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Pondok Aren, Tangerang Selatan (Tangsel), Jumat (26/7/2019). 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -  Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono mengingatkan bahaya penyebaran radikalisme yang menyasar masyarakat terutama para mahasiswa baru di berbagai universitas.

"Sebab mereka ini baru lulus sekolah menengah atas dan sedang mencari jati diri, sehingga rentan dipengaruhi oleh paham menyimpang," kata Gatot saat memberi kuliah umun di Kampus Universitas Trisakti, Jakarta, Minggu (18/8/2019).

Menurutnya peran mahasiswa, cukup besar dalam merawat keberagaman karena tantangan bangsa Indonesia ke depan yang paling besar adalah masalah intoleransi, radikalisme, terorisme yang dikaitkan dengan media sosial.

Jika masyarakat khususnya mahasiswa tidak bisa mengelola media sosial dengan baik maka paham-paham tersebut dapat masuk hingga mempengaruhi generasi muda.

"Sehingga keberagaman kita bisa terganggu. Oleh karena itu saya mengimbau ayo terus kita semaikan toleransi, keberagaman, demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini," katanya.

Ia menjelaskan jika masyarakat mulai mengangkat perbedaan yang ada maka itulah cikal bakal hancurnya bangsa Indonesia.

"Namun, apabila mengangkat kebersamaan dalam perbedaan sekalipun esok kiamat Indonesia akan tetap ada. Jadi kalau besok bumi ini kiamat, H-1 bangsa Indonesia akan tetap ada. Itu yang kita sampaikan pada generasi muda karena mereka calon pemimpin bangsa ini," paparnya.

Kebhinnekaan yang dimiliki bangsa Indonesia mulai dari suku, agama, budaya, bahasa dan sebagainya kata dia rentan dirusak oleh pihak yang tidak senang dengan Ibu Pertiwi.

"Ancaman tersebut bersumber dari dua faktor yaitu internal dan eksternal. Dari luar negeri ancaman bisa saja datang dari negara-negara lain. Hal itu terjadi karena ketidaksenangan kepada Indonesia. Sebab jika Indonesia menjadi negara besar apakah negara lain senang? Tentu saja tidak," ujarnya.

Beragam cara yang dilakukan katanya mulai dari yang soft dan perlahan hingga invasi militer secara terang-terangan.

Halaman
12
Editor: Damanhuri
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved