Kasus Pencabulan Terus Berulang, Komnas PA: Bogor Darurat Kejahatan Seksual Terhadap Anak

Beberapa bulan belakangan ini kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi di wilayah Kabupaten Bogor terus berulang.

Kasus Pencabulan Terus Berulang, Komnas PA: Bogor Darurat Kejahatan Seksual Terhadap Anak
TribunnewsBogor.com/Damanhuri
Kekerasan Anak 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Beberapa bulan belakangan ini kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi di wilayah Kabupaten Bogor terus berulang.

Seperti pada 2 Juli 2019 lalu anak SD di Puncak Bogor ditemukan tewas dalam bak mandi setelah dicabuli dan dibunuh oleh pelaku tukang bubur.

Kemudian bocah umur 10 tahun jadi korban pencabulan oleh pelaku remaja umur 17 tahun di Gunungputri yang terjadi pada 28 Agustus 2019.

Polisi pada 3 September 2019 juga kembali mengungkap kasus kekerasan seksual dan juga pembunuhan terhadap anak umur 11 tahun di Babakan Madang.

Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait mengatakan bahwa Bogor kini sudah termasuk darurat kejahatan seksual terhadap anak.

"Atas beruntunnya dan tingginya angka kejahatan seksual terhadap anak di wilayah Bogor tidaklah berlebihan jika Bogor masuk dalam kategori darurat kejahatan seksual terhadap anak setelah Bekasi dan Tangerang," kata Arist dalam keteranganya kepada TribunnewsBogor.com, Selasa (10/9/2019).

Menurutnya, fakta itu tidak bisa dibantah karena dalam kurun waktu Januari-Juni 2019, data kekerasan terhadap anak yang dilaporkan dan dikumpulkan Pusat data dan pengaduan Komnas Perlindungan Anak, dari 245 kasus pelanggaran terhadap anak di wilayah Bogor 52 persen didominasi oleh kejahatan seksual.

Sementara selebihnya 42 persen merupakan kasus-kasus penyelengaraan, eksploitasi ekonomi penculikan dan perdagangan anak serta kejahatan-kejahatan seksual bentuk lain.

Semua itu, kata Arist merata baik di desa, kecamatan maupun kota dan para predatornya adalah orang terdekat anak, yakni ayah kandung maupun tiri abang, kerabat dekat keluarga, paman, kakek guru baik guru reguler maupun non reguler, teman sebaya anak, tetangga, pedagang keliling serta kerabat dari orang tua.

"Lingkungan sosial anak, ruang publik dan tempat bermain anak serta pondok-pondok dan panti-panti bersama juga tidak aman bagi anak. Angka Kejahatan Seksual terhadap anak ini akan terus bertambah jika pemerintah Kabupaten Bogor tidak menaruh perhatian serius terhadap masalah ini," katanya.

Arist Merdeka menjelaskan, untuk mengurangi pelanggaran-pelanggaran Hak Anak di Bogor, sudah saatnya Bupati Bogor melalui program Dinas PPPA dan KB Bogor mencanangkan Bogor DARURAT Kekerasan Terhadap Anak dan mendorong partisipasi masyarakat aktif dan progresif serta berkelanjutan dimasing-masing kampung dan desa membangun Gerakan Perlindungan Anak Sekampung atau se-Desa yang diintegrasikan dengan program pemberdayaan Desa.

Bupati Bogor wajib membantu dan mewajibkan para Kepala Desa untuk srgera mengeluarkan Peraturan Desa (Perdes) tentang Perlindungan Anak dan perempuan untuk mengikat komitmen dan partisipasi masyarakat dalam perlindungan anak.

"Dengan membiarkan kasus kejahatan seksual terhadap terus menerus terjadi, tidaklah berlebihan jika Pemerintah Kabupaten Bogor dinilai gagal memberikan Pelindungi bagi Anak. perlu di evaluasi ulang terhadap julukan Bogor Kota Layak Anak. Apanya yang layak, sementara kasus-kasus pelanggaran anak terus terjadi," pungkas Arist Merdeka.

Penulis: Naufal Fauzy
Editor: Damanhuri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved