Penjelasan BMKG soal Hari Tanpa Bayangan

Akibatnya bayangan benda yang tegak akan terlihat menghilang karena bertumpuk dengan benda itu sendiri.

Penjelasan BMKG soal Hari Tanpa Bayangan
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Saat cuaca panas di Bogor 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, DRAMAGA - Indonesia kini tengah dilanda fenomena Hari Tanpa Bayangan yang mana menimbulkan panas terik matahari yang lebih kuat dari biasanya.

Kasi Data dan Informasi BMKG Stasiun Dramaga, Hadi Saputra mengatakan bahwa fenomena ini disebut Kulminasi Utama yakni ketika matahari berada tepat paling tinggi di langit

Akibatnya bayangan benda yang tegak akan terlihat menghilang karena bertumpuk dengan benda itu sendiri.

"Itu pas posisi matahari ada di atas Indonesia. Hari saat terjadinya Kulminasi Utama dikenal juga sebagai Hari Tanpa Bayangan," kata Hadi saat dikonfirmasi TribunnewsBogor.com, Rabu (11/9/2019).

Penyebab terjadinya Hari Tanpa Bayangan, kata Hadi, karena bidang ekuator atau bidang rotasi Bumi tidak tepat berimpit dengan bidang ekliptika atau bidang revolusi Bumi.

Sehingga posisi Matahari dari Bumi akan terlihat berubah terus sepanjang tahun antara 23,5o LU s.d. 23,5o LS yang mana hal ini disebut sebagai gerak semu harian matahari.

"Mengingat Indonesia yang berada di sekitar ekuator, kulminasi utama di wilayah Indonesia akan terjadi dua kali dalam setahun dan waktunya tidak jauh dari saat Matahari berada di khatulistiwa. Sebagai contoh untuk kota Pontianak yang tepat terbelah oleh garis khatulistiwa, kulminasi utamanya terjadi pada 21 Maret 2019 pukul 11:50 WIB dan pada 23 September 2019 pukul 11.35 WIB," katanya.

Hadi menyebut bahwa Hari Tanpa Bayangan juga perkirakan akan segera melanda wilayah Jawa Barat pada bulan Oktober 2019 mendatang.

Penulis: Naufal Fauzy
Editor: Ardhi Sanjaya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved