Antisiapasi Peredaran Mie Berformalin di Bogor, Disperindag Akan Lakukan Sidak

Antisipasi beredarnya mie berbahan formalin di Kota Bogor, Dinas Perindustrian dan Perdagangan melakukan kordinasindengan Dinas Kesehatan.

Antisiapasi Peredaran Mie Berformalin di Bogor, Disperindag Akan Lakukan Sidak
Tribunnews.com
Ilustrasi mie. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Antisipasi beredarnya mie berbahan formalin di Kota Bogor, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) melakukan inpeksi mendadak (sidak) ke pasar.

Pihaknya telah berkordinasi dengan Dinas Kesehatan.

Hal itu untuk menyikapi adanya pengungkapan Mie Bogor dan pabrik formalin di Cianjur oleh pihak Bareskrim Polri beberapa waktu lalu.

Kepada Bidang Tertib Niaga Disperindag Kota Bogor Mangahit Sinaga mengatakan bahwa Disperindag sudah melakukan kordinasi dengan Dinkes untuk melakukan inspeksi ke pasar.

"Pak kadis sudah melakukan kordinasi dengan Dinkes tentang pelaksanaan sidak, karena kalau sidak dan pemeriksaan bahan kimia Disperindag hanya mendampingi karena yang memiliki alat pemeriksaan adalah Dinskes dan Distani nantiya akan diuji di labkesda," ujarnya saat dihubungi TribunnewsBogor.com ketika sedang berada di luar kantor, Rabu (18/9/2019).

Sementara itu untuk melihat makanan yang dicurigai menggunakan bahwan bahan berbahaya masyarakat bisa memeriksanya dengan beberapa cara.

Misalnya saja bahan pewarna bisa dicek menggunakan lidi.

"Nah terkait itu bisa dilihat dengan kasat mata, jika ada korek atau lidi tusukan ke kunyit kemudian tusuk juga ke makanan yang dicurigai jika setelah itu berwarna merah atau pink bahan makanan itu perlu dicurigai menggunakan pewarna, sama seperti pewarna tekstil, jika di remas dengan tangan pewarna itu akan menempel di tangan dan susha hilan, tapi untuk memastikan jelasnya perlu di tes di laboratorium," katanya.

Sementara itu itu untuk formalin atau borak bisa dicek dengan cara dijatuhkan.

"Untuk tahu yang berformalin atau menggunakan borak jika di jatuhkan dari ketinggian 20-30 centi meter tidak hancur itu patut dicurigai ada bahan berbahaya," katanya.

Penulis: Lingga Arvian Nugroho
Editor: Mohamad Afkar Sarvika
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved