Viral Beredar Cara Pancing Hujan Pakai Baskom Air Garam, Begini Fakta Sebenarnya

Terkait hal tersebut, seperti dilansir dari kompas.com tahun 2015 lalu, Peneliti Meteorologi Tropis BPPT Dr Tri Handoko Seto sudah mengungkapkan

TribunnewsBogor.com/Lingga Arvian
ILUSTRASI - Hujan deras yang mengguyur kawasan Warung Jambu, Bogor Utara, Kota Bogor, Rabu (7/10/2015) 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Minggu-minggu ini kita disibukkan oleh berita adanya kebakaran luas di Indonesia.

Di tengah upaya pemerintah menghentikan kebakaran, ada pihak-pihak yang memperkeruh suasana dengan menyebarkan kabar hoaks.

Di aplikasi chating saat ini banyak beredar pesan berantai di aplikasi perpesanan yang berisi ajakan untuk memancing hujan dengan air garam.

Berikut ini bunyi broadcast yang beredar di grup-grup WhatsApp:

Darurat Kemarau Panjang !!

Sediakan baskom air yang dicampur garam dan diletakkan diluar rumah, biarkan menguap, jam penguapan air yang baik adalah sekitar pukul 11.00 s.d jam 13.00, dengan makin banyak uap air di udara semakin mempercepat Kondensasi menjadi butir air pada suhu yang makin dingin di udara.

Dengan cara sederhana ini diharapkan hujan makin cepat turun, semakin banyak warga yang melakukan ini di masing-masing rumah, ratusan ribu rumah maka akan menciptakan jutaan kubik uap air di Udara.

Lakukan ini satu rumah cukup 1 ember air garam, sabtu jam 10 pagi serempak..

Mari kita sama2 berusaha utk mnghadapi kemarau kian parah ini.. >:|<

Mohon diteruskan..
Terima kasih

Benarkah hal itu perlu dilakukan?

Jika Kembali Jadi Asistennya, Raffi Ahmad Janjikan Naik Gaji kepada Merry

Kronologi Remaja Disekap hingga Diperkosa Selama 4 Hari di Rumah Kosong, Berawal dari Ancaman Foto

Ternyata kabar hoaks berantai ini sudah sering beredar terutama saat ada kebakaran hutan yang besar.

Terkait hal tersebut, seperti dilansir dari kompas.com tahun 2015 lalu, Peneliti Meteorologi Tropis BPPT Dr Tri Handoko Seto sudah mengungkapkan, bahwa dari sisi partisipasi masyarakat, dia merasa senang terhadap adanya aksi itu.

Hal tersebut menunjukkan kepedulian tinggi masyarakat terhadap bencana asap yang sedang terjadi.

Namun dari sisi teknis, hal ini sangat jauh panggang dari api alias tidak ada gunanya.

Menurut Tri Handoko, jika ada satu ember air tiap rumah, lalu ratusan ribu orang dari tiap rumah melakukannya maka diharapkan akan ada jutaan meter kubik uap air, hal itu tidaklah mungkin.

Dengan asumsi satu ember sama dengan 10 liter air, maka total air yang hendak diuapkan hanya ribuan meter kubik.

Maka diperlukan ratusan juta ember untuk mendapatkan jutaan meter kubik.

Itu pun jika air yang ditempatkan di ember menguap semua.

Maka menurut Tri Handoko, hal ini dipastikan tidak akan mungkin.

Gebby Vesta Akhirnya Akui Dirinya Transgender, Nangis Ungkap Fakta : 6 Tahun Lalu Aku Ganti Kelamin

Menurut dia, proses terjadinya hujan bukan merupakan mekanisme mikro seperti yang disampaikan dalam pesan berantai tersebut.

Ada banyak syarat yang harus dipenuhi agar hujan terjadi.

Selain penguapan yang besar, perlu pola angin tertentu sehingga uap air bisa terkondensasi di suatu wilayah.

"Tentu saja ini terkait dengan kondisi cuaca skala luas. Keberadaan gunung bisa saja mengakibatkan terbentuknya awan, tetapi untuk menjadi hujan, perlu juga lingkungan yang mendukung," papar Tri Handoko.

Menurut Tri Handoko, masyarakat diharapkan punya partisipasi yang lebih mendukung.

Yang paling penting untuk saat ini adalah jangan membakar hutan dan lahan.

Pembakaran kecil bisa menjadi besar dan tidak terkendali.

Tri Handoko menyarankan untuk segera melaporkan jika mendapati ada orang yang membakar hutan dan atau lahan.

Bahkan jika perlu, mereka bisa bergabung dan aktif dalam gerakan-gerakan pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

Artikel ini telah tayang di Nextren.grid.id dengan judul Viral Broadcast Cara 'Pancing' Hujan Pakai Baskom Air Garam, Ini Faktanya

Editor: khairunnisa
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved