Kesedihan Maspupah Anaknya Tewas di Tengah Rusuh Sekitar DPR, Janggal dengan Kondisi Jasad Sang Anak

Maspupah terkejut mendapat kabar anaknya dinyatakan meninggal dunia. Maulana Suryadi diduga meninggal karena sesak napas

Penulis: Mohamad Afkar S | Editor: Vivi Febrianti
Tangkapan Layar Breaking News Kompas TV/ KOMPAS.COM/WALDA MARISON
Demo sekelompok massa di belakang gedung DPR RI berlangsung ricuh hingga, Rabu (25/9/2019) malam pukul 19.30 WIB - Maspupah saat ditemui di rumahnya, Kamis (3/10/2019) 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Suasana duka masih menyelimuti Maspupah (51), ibunda dari pemuda yang meninggal di tengah aksi demo di sekitar Gedung DPR RI.

Pada Rabu (25/9/2019) malam, Maulana Suryadi alias Yadi (23), putra Maspupah, pamit pergi keluar rumah yang saat itu sedang terjadi demo.

Kericuhan mewarnai aksi massa itu.

Sehari setelahnya, sang ibu Maspupah terkejut mendapat kabar anaknya dinyatakan meninggal dunia.

Maulana Suryadi diduga meninggal karena sesak napas setelah menghirup gas air mata.

Maspupah pun menceritakan bahwa Maualana Suryadi memang sempat meminta izin kepadanya.

Maspupah saat ditemui di rumahnya, Kamis (3/10/2019)
Maspupah saat ditemui di rumahnya, Kamis (3/10/2019) ((KOMPAS.COM/WALDA MARISON))

Hal itu diungkapkan Maulana Suryadi sambil memijat ibunya.

"Iya minta izin katanya mau demo. 'Ngapain demo, nggak ada kerjaan demo-demo', kata saya," ucap Maspupah, Kamis (3/10/2019) seperti dikutip TribunnewsBogor.com dari Kompas.com.

Setelahnya, Maulana Suryadi mencium tangan ibunya dua kali lalu berangkat.

"Cium tangan saya sambil bilang, 'maafin Yadi ya, Bu'. Saya tanya sama dia mau ke mana. Dia bilang mau ikut demo," ujar Maspupah seperti dilansir TribunnewsBogor dari TribunJakarta.com.

Tak disangka, rupanya saat itu adalah malam terakhir Maulana Suryadi bersama ibundanya.

Engku Emran Mesra Bareng Laudya Cynthia Bella Pasca Isu Retak, Mbah Mijan: Auranya Tertekan Sekali

Keesokan harinya, kediaman Maspupah didatangi polisi.

Delapan orang Polisi mendatangi rumahnya di Jalan Abdullah, Cidodol, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (26/9/2019) malam.

"Polisi bilang, 'Maulana sudah nggak ada, sabar ya bu'. Saya kaget, nangis. Anak saya berangkat masih sehat," kata Maspupah saat ditemui seusai pengajian tujuh hari meninggalnya Yadi di kediamannya, Kamis (3/10/2019) malam.

Maspupah, ibu Maulana Suryadi, saat ditemui di kediamannya di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (3/10/2019).
Maspupah, ibu Maulana Suryadi, saat ditemui di kediamannya di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (3/10/2019). (TRIBUNJAKARTA.COM/ANNAS FURQON HAKIM)

Kemudian polisi mengajaknya melihat jenazah Yadi di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Ia merasa tidak ada yang aneh ketika melihat jenazah putra sulungnya itu di RS Polri.

Namun, keesokan harinya, Maspupah melihat ada kejanggalan pada jenazah Yadi.

"Saat dimandikan jenazahnya keluar darah dari hidung, kupingnya juga. Punggungnya biru-biru," ujarnya.

Jadwal Siaran Langsung Liverpool Vs Leicester City, Newcastle United Vs Man United Liga Inggris

Menurut pengakuannya, darah tersebut masih mengucur dari hidung dan kuping jenazah Yadi saat akan dimakamkan.

Maspupah pun sempat menunjukkan foto yang menunjukkan kain kafan sebagai pembungkus jenazah Yadi berlumuran darah.

Ia sempat bertanya kepada seorang Polisi perihal kejanggalan yang dirasakannya.

"Polisi bilang itu karena penyakit asmanya," ucap Maspupah.

Akan tetapi, Maspupah tidak lantas mempercayai. Ia menduga anaknya tewas karena mendapat penganiayaan fisik.

"Saya nggak terima kalau anak saya dipukulin sampai meninggal. Dunia akhirat saya nggak terima. Kalau maling atau copet, nggak apa-apa dipukulin. Anak saya bukan maling," katanya.

Diberi santunan

Santunan sebesar Rp 10 juta diberikan Polisi di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (26/9/2019).

Saat itu, Maspupah baru saja diantar untuk melihat jenazah putra sulungnya.

"Saya dikasih amplop isinya Rp 10 juta. Katanya buat biaya urus jenazah Yadi. Saya nggak banyak omong, takut," kata Maspupah saat ditemui di rumah kontrakannya di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (3/10/2019).

"Saya terima. Terus terang saya nggak punya duit, parkiran lagi sepi kan," tambahnya.

Jadwal MotoGP Thailand 2019: Marc Marquez Hanya Perlu Poin Segini Demi Kunci Gelar Juara Dunia

Sehari-hari, Maspupah bekerja sebagai juru parkir di Pasar Tanah Abang. Begitu juga dengan Yadi.

Tanggapan polisi

Diwartakan Kompas.com, Tim Forensik Rumah Sakit Polri Kramat Jati sebelumnya memastikan tak ada tanda kekerasan pada jasad Yadi.

"Tidak ada faktor kekerasan pada jasad korban saat kami terima di kamar mayat," kata Kepala Instalasi Forensik Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Kombes Pol Edi Purnomo di Jakarta, Kamis (3/10/2019) sore.

Satu-satunya petunjuk saat proses otopsi di tubuh korban berada pada pembengkakan pembuluh darah di bagian leher.

"Tapi memang ada pembesaran pembuluh darah di leher. Itu biasanya terjadi pada orang yang mengalami sesak nafas," katanya.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan seorang pedemo tewas saat demonstrasi yang berujung kerusuhan di sekitar Gedung DPR pada pada Rabu (25/9).

Tito menegaskan pedemo yang tewas itu bukan dari kalangan pelajar dan mahasiswa namun kelompok perusuh.

Kapolri juga membantah penyebab kematian korban bukan karena tindakan represif dari aparat yang menangani aksi massa rusuh.

(TribunnewsBogor.com/Kompas.com/TribunJakarta.com)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved