Wiranto Ditusuk
Baru Berusia 20 tahun, Begini Keberingasan Wanita yang Tusuk Kapolsek Saat Wiranto Terkapar
Dalam insiden penusukan itu, ada 4 orang korban yakni Menkoplhukam Wiranto, Kapolsek Menes Kompol Daryanto, seorang ajudan serta tokoh masyarakat.
Penulis: Damanhuri | Editor: Ardhi Sanjaya
Baru Berusia 20 tahun, Begini Keberingasan Wanita yang Tusuk Kapolsek Menes saat Bersama Wiranto
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Fitri Andriana tersangka pelaku penikaman kepada Kapolsek Menes, Kompol Daryanto ternyata baru berusia 20 tahun.
Tersangka Fitri Andriani merupakan wanita kelahiran Brebes, 3 Mei 1999 yang artinya ia masih berusia 20 tahun.
Tersangka Fitri Andriani dan Syahril Alamsyah alias Abu Rara merupakan pelaku penusukan Menkopolhukam Wiranto saat berkunjung ke Pandeglang, Banten pada Kamis (10/10/2019) kemarin.
Kedua pelaku yakni Fitri Andriani dan Syahril Alamsyah alias Abu Rara yang mengontrak di Pandeglang Banten tersebut saat ini sudah berhasil diamankan oleh polisi untuk dilakukan pemeriksaan.
Fitri Andrian merupakan warga Desa Sitanggal, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, sedangkan Syahril Alamsyah alias Abu Rara merupakan warga Medan.
Dalam insiden penusukan itu, ada 4 orang korban yakni Menkoplhukam Wiranto, Kapolsek Menes Kompol Daryanto, seorang ajudan serta tokoh masyarakat setempat.
Beruntung, nyawa keempat korban berhasil selamat dan saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Kapolsek Menes Kompol Daryanto yang menjadi salah satu korban penusukan menceritakan keberingasan Fitri Andriani wanita yang saat itu menyerangnya.
Saat itu Kompol Daryanto sendiri yang salaman dengan Wiranto ketika pelaku melakukan penikaman.
"Saat saya berbalik arah ke sana, ngawasi pak Wiranto juga pejabat di rombongan, pak kapolda kemana sih nih pikir saya, pak Kapolda ternyata sudah keluar lewat sana, pas saya kesana nyerang, yang laki-laki nyerang pak Wiranto," kata Kompol Daryanto.
• Teman Main Sekampung Bocorkan Kelakuan Pelaku yang Menikam Wiranto: Keningnya Hitam Disundut Rokok
Menurutnya, pelaku yang perempuan juga melakukan penyerangan menggunakan kunai.
"Kalau menggunakan itunya si perempuannya iya (pakai kunai), kalau lelakinya saya lihat lelaki itu jatuh karena kedesak, " kata Kompol Daryanto.
Posisi Kompol Daryanto saat kejadian berhadapan dengan Wiranto.
Kompol Daryanto sempat menyalami Wiranto sebelum kejadian penusukan.
"kan saya salaman, pengamanan waktu itu, berhadapan, karena kepekaan akhirnya saya bergeser, disini ada ajudan juga, ada celah dikit dia masuk makanya kedesek, jatuhlah dia," kata Kompol Daryanto.
Menurut Kompol Daryanto, istri Abu Rara, Fitri Andariana sempat melakukan perlawanan pada polisi.
"Perlawanan, bukan bohong saya, ini ibu-ibu apa sih cuman waktu itu saya gak terasa, setelah ngocor wuih darah saya sepak ke samping," kata Kompol Daryanto.
• Kepala BIN Ungkap Motif Penikaman Pelaku Terhadap Wiranto, Tetangga Abu Rara : Rumahnya Kena Gusur
• Video Beringasnya Abu Rara Saat Tikam Wiranto, Kapolda Tangkis Serangan Istri Pelaku Pakai Tongkat

Sementara itu Karo Penmas Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo pelaku penusukan Wiranto, Abu Rara memang sudah diincar oleh Kepolisian.
"Abu Rara memang sudah diikuti, dari penangkapan Abu Sei, kemudian dalam pemeriksan dia juga melakukan rekrutmen kepada 8 orang, dua orang ditangkap, Abu sei ini berpisah, terus dia pergi ke Kampung Menes, di Lampung Menes belum diketemukan adanya persiapan ataupun bukti secara otentik perbuatan melawan hukum oleh Abu Rara," kata Dei Prasetyo dikutip dari Kompas TV.
Dari hasil pemeriksaan oleh Densus 88, Abu Rara sendiri sedang merasa takut dan khawatir.
Sebab pimpinannya sudah terlebih dulu ditangkap.
"Baru dalam proses pemeriksan Dendsus 88 Abu Rara takut, stres dan tertekan setelah mendengar boleh dikatakan ketuanya dia, meskipun dia dalam kelolmpk aktif tertangkap, wah in tertangkap saya kahwatir saya akan ditangkap, " kata Dedi Prasetyo.
Karena ketakutan itulah, menurut Dedi Prasetyo, Abu Rara kemudian melakukan persiapan bersama sang istri, Fitri Andariana untuk melakukan penyerangan.
Kala itu Abu Rara mendapat informasi akan ada helikopter yang mendarang di Alun-alun Menes, Pandeglang, Banten.
"Maka dia komunikasi dengan istrinya, kita persiapan kita melakuakn amaliyah kita tinggal menunggu waktu, kebetulan saat itu dia menyampaikan ke penyidik, ada kapal mau mendarat masyarakat banyak ke alun-alun saya gak tau nih siapa tapi itu sasaran kita, ngomong ke istrinya, udah kita langsung ke alun-alun, dia menceritaka ke istrinya, " kata Dedi Prasetyo.
• VIDEO Tampak Depan Saat Wiranto Ditusuk, Ernest Prakasa: Kalau Lihat Ini Agak Sadis Bilang Rekayasa
Menurut Dedi Prasetyo, Abu Rara memerintahkan istrinya untuk menyerang polisi yang berada di dekatnya.
"Nanti saya akan menyerang bapak yang turun dari heli, kamu nanti langusng menusuk anggota polisi yang deket yang siapa yang kamu ketemukan dengan bapak itu," kata Dedi Prasetyo.
Jarak dari kontrakan Abu Rara ke Alun-alun Menes sendiri sekitar 300 meter.
Kemudian menurut Dedi Prasetyo, Abu Rara dan istri ke Alun-alun dengan mengajak anaknya.
"kemudian mereka bertiga, Abu Rara istrinya dan anaknya mencoba mendekati sasaran, beberapa kali dihalau oleh polisi tidak boleh mendekat tapi tetep memaksa mendakat masuk ke kelompok masyarakat yang sedang slaaman dan minta foto selfie, " kata Dedi Prasetyo.
Secara mendadak, Abu Rara langsung menyerang ke arah Wiranto.
"secara mendadak langsung melakukan serangan ke Wiranto, tapi yang kena duluan haji fuad, kemudian dia nyerang ke Wiranto dan istrinya nyerang pak kapolsek, menikam dari belakang, kapolsek kena punggung sama kena lengan kiri bagian belakang, " kata Dedi Prasetyo.
Saat itu juga menurut Dedi Prasetyo, Abu Rara langsung dilumpuhkan.
• Polri Sebut Pelaku Tak Tahu yang Ditusuknya Adalah Wiranto, Spontan karena Lihat Helikopter

Sementara istri Abu Rara, Fitri Andariana, masih terus melakukan perlawanan ketika akan diamankan.
Malahan menurut Dedi Prasetyo, Fitri Andariana sempat mencoba menyerang Kapolda.
"saat itu juga untuk menyerang pak Wiranto sudah dilumpuhkan oleh pengawal pribadi dan polisi setemapat, yang perempuan nyoba serang polisi lagi yang deket pak Kapolda, Kapolda serang tapi ditepis pake tongkat komando oleh kapolda kemudian ditendang jatuh baru ditangkap," kata Dedi Prasetyo.
Melihat Fitri Andariana ditangkap, Abu Rara langsung berontak.
Senjata kunai yang masih melekat di lengannya juga melukai orang lain selain Wiranto.
"Melihat istrinya ditangkap Abu Rara berontak, karena dia menggunakan pisau jenis kunai, itu dia melekat di tangan sehingga sulit untuk dilepas, pisau ini kalau sudah melekat di tangan sulit dilepas, makanya setiap orang yang kena lukanya pasti dua, saat dilakukan pelumpuhan oleh aparat karena berontak akhirnya ajudan Danrem kena juga," kata Dedi Prasetyo.
Kesaksian tetangga Ftri Andriani
Fitri Andriani dan Syahril Alamsyah dikabarkan sebagai pasangan suami istri.
Namun, tetangga Fitri Andriani di kampung halamannya di Desa Sitanggal, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah mengaku tidak mengetahuinya.
Tetangga terakhir melihat Fitri pulang kampung saat lebaran tahun ini.
Masiroh (34), tetangga Fitri mengatakan bahwa Fitri Andriani sudah merantau ke Tanggerang Banten sejak lulus SD.
Para tetangga mengetahui bahwa Fitri Andriani bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART).
"Merantau sejak SD. Informasi dari orangtua bekerja sebagai asisten rumah tangga. Tapi memang jarang pulang. Kalau pulang jarang keluar rumah. Anaknya pendiam dan tertutup," kata Masiroh mengutip Kompas.com.
Di Brebes, FD tinggal bersama orangtuanya yang bekerja sebagai petani, serta kakak dan adiknya.
Oleh tetangganya, perempuan kelahiran Brebes, 3 Mei 1999 yang menyerang Wiranto tersebut dikatakan belum menikah.
• Kondisi Terkini Wiranto Usai Ditikam Suami Istri di Banten, Ada Luka 2 Tusukan Hingga Jalani Operasi

Kepala Desa Sitanggal Untung Andi Purwanto mengatakan FD sempat mengabarkan berencana akan menikah.
Namun untung tidak mengetahui calonnya.
"Informasinya memang mau dipinang. Mau menikah," kata dia.
Namun keterangan berbeda didapatkan dari Mulyadi, Ketua RT tempat FD dan SA tinggal.
Menurut Mulyadi, FD adalah istri SA. Ia menyebut mereka telah menikah pada Agustus 2019 lalu, atau tiga bulan setelah SA tinggal di kontrakan Kampung Sawah, Gang Kenari, Desa / Kcamatan Menes, Pandeglang.
"Dia minta izin menikah di Bogor, pas balik lagi ke sini sudah bawa istri, bercadar, sekitar 19-20 tahunan," kata Mulyadi.
(TribunnewsBogor.com/Kompas.com)