Rumah Sakit Jiwa Grogol Tangani Ratusan Anak Kecanduan Main Handphone

Menurutnya ratusan anak yang kecanduan menggunakan handphone menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa Grogol dan berbagai Puskesmas di Jakarta.

TribunnewsBogor.com/Damanhuri
Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Sekitar 278 anak harus mendapat pendampingan psikologis karena kecanduan bermain handphone dan ditangani di berbagai fasilitas medis yang tersebar wilayah Provinsi DKI Jakarta.

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak (PA) Arist Merdeka Sirait mengatakan jumlah tersebut didapati saat jadi pembicara dalam diskusi dampak game online terhadap kesehatan mental anak satu bulan lalu.

"278 kalau saya hitung, di acara mendiskusikan dampak game terhadap kesehatan mental yang diselenggarakan Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa," kata Sirait di Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin (28/10/2019).

Menurutnya ratusan anak yang kecanduan menggunakan handphone menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa Grogol dan berbagai Puskesmas di Jakarta.

Namun Sirait tak dapat memastikan secara kependudukan asal anak yang harus menjalani perawatan psikologis dalam rentan waktu berbeda

"Di dua tempat, Puskesmas yang ada di DKI dengan data yang ada di (RSJ) Grogol. Karena pesertanya kan dapat dari beberapa Puskesmas," ujarnya.

Banyaknya jumlah anak yang dirawat di berbagai fasilitas medis di wilayah DKI disebut Sirait jadi bukti nyata bahaya kecanduan menggunakan handphone.

Pasalnya pada tahun 2016 lalu, Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat menangani 209 anak yang kecanduan menggunakan handphone.

"Ditemukan dari laporan masing-masing peserta, karena ada peserta yang datang dari Puskesmas, pegiat perlindungan anak, dari orang tua juga. Itu di luar dugaan saya," tuturnya.

Tingginya jumlah anak yang dirawat dinilai Sirait karena banyak orang tua telat menyadari anak mereka kecanduan game online sedari awal.

Baru saat anak mereka menunujukkan gejala kecanduan yang ekstrem mereka datang ke fasilitas medis dan memeriksakan kejiwaan anaknya.

"Persoalannya enggak pernah diperhatikan orang tua, padahal sudah menunjukkan gejala kecanduan. Jadi pemahamannya rendah, misalnya anak depresi, marah-marah sendiri," lanjut Sirait.

 (TribunJakarta.com, Bima Putra)

Editor: Damanhuri
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved