Pengamat Sebut Harga Gas Industri Lebih Murah dibandingkan Harga Gas Rumah Tangga,

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Energy Watch Mamit Setiawan menanggapi penundaan rencana kenaikan harga gas industri oleh Kementerian ESDM.

Pengamat Sebut Harga Gas Industri Lebih Murah dibandingkan Harga Gas Rumah Tangga,
Tribun Jateng /Hermawan Handaka
Petugas dari Perusahaan Gas Negara (PGN) melakukan pengecekan secara berkala pada jaringan pipa gas beserta fasilitasnya di rumah usaha katering Bu Margo yang beralamatkan di Jalan Wahyu Astri V E156 Ngaliyan, Kelurahan Tambak Aji, Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang, Kamis (18/10). (Tribun Jateng/Hermawan Handaka) 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Rencana kenaikan harga gas industri sebetulnya tidak perlu dibatalkan.

Sebab, harga gas industri sudah tujuh tahun tidak naik. Harga gas industri juga masih lebih murah dibanding harga gas rumah tangga.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Energy Watch Mamit Setiawan menanggapi penundaan rencana kenaikan harga gas industri oleh Kementerian ESDM.

Seperti diketahui, Rabu (30/10/2019) kemarin, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) berkirim surat ke Presiden yang isinya menolak rencana kenaikan harga gas industri. Surat tersebut sepertinya menjadi pertimbangan pemerintah untuk menunda rencana kenaikan.

“Sebetulnya, kenaikan harga gas industri itu wajar karena beban Badan Usaha Hilir Gas sudah berat. Toh, harga gas di hulu sudah naik juga. Ingat juga, harga gas industri masih lebih murah dibandingkan harga gas rumah tangga," ujar Mamit Setiawan kepada para wartawan, Kamis (31/10/2019).

Menurutnya, beban harga gas, pembangunan infrastruktur jaringan gas, dan harga gas bumi hilir, merupakan harga agregasi. Yakni, dari berbagai harga pasokan gas bumi. Serta biaya infrastruktur penyaluran gas bumi dari lokasi produsen sampai ke konsumen akhir. Di mana 71% dari harga gas hilir berasal dari harga gas hulu.

Mamit menambahkan, saat ini harga gas industri di Singapura jauh lebih mahal dibanding Indonesia. Jadi, sudah selayaknya kenaikan harga gas itu.

"Gas industri hanya Rp4.000/m3. Sementara harga gas rumah tangga sekitar Rp6.000/m3. Jadi, rasanya tak adil. Mestinya Kadin lebih bijak," tegasnya.

Menurut Mamit, laba Badan Usaha Hilir Gas terus tergerus karena sudah tujuh tahun tidak menaikkan harga gas industri.

Apalagi, Badan Usaha Hilir Gas harus memperhitungan pembangungan infrastruktur jaringan gas yang menjangkau ke banyak daerah. Ini tidak mudah dan membutuhkan investasi besar. Belum termasuk biaya perawatan dan pemeliharaan fasilitas milik Badan Usaha Hilir Gas.

(Tribunnews.com) 

Editor: Damanhuri
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved