Kawin Kontrak di Puncak

Imbas Kasus Kawin Kontrak di Puncak, Pemkab Bogor Minta Penampungan Imigran Dipindah

Wakil Bupati Bogor Iwan Setiawan mengatakan permintaan pemindahan imigran ke lokasi lain ini sudah berkali-kali dilakukan.

TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Suasana di kawasan Warung Kaleng yang kental dengan nuansa Timur Tengah, Kamis (11/4/2019). 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Pasca sindikat kawin kontrak di kawasan Puncak Bogor terkuak, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor ingin memindahkan lokasi penampungan imigran di Cisarua Puncak ke lokasi lain.

Wakil Bupati Bogor Iwan Setiawan mengatakan permintaan pemindahan imigran ke lokasi lain ini sudah berkali-kali dilakukan.

Namun, sampai sekarang masih belum ada perkembangan.

"Imigran sudah berkali-kali kita meminta kepada imigrasi tapi kan dari pihak imigrasinya keras sedikit aja dalam pribadi dia juga tidak terlalu berani. Itu yang jadi masalah kan jadi kalau memang mau menertibkan harus total," kata Iwan Setiawan saat ditemui TribunnewsBogor.com di Cibinong, Kamis (26/12/2019).

Terpisah, Bupati Bogor Ade Yasin mengatakan bahwa hidung belang yang terlibat sindikat kawin kontrak di Puncak Bogor ini adalah wisatawan Timur Tengah.

Namun, terkait penataan kawasan wisata Puncak, imigran juga jadi persoalan lain.

"(Yang terlibat kawin kontrak) Ini wisatawan, tapi ada persoalan juga dengan imigran. Kami berkinginan kepada Kemenkumham untuk memindahkan tempat penampungan imigran tersebut, karena mereka ada juga yang beranak pinak juga sehingga akhirnya banyak yang bercampur dengan masyarakat, ada yang berusaha berdagang dan sebagainya," kata Ade Yasin.

Kondisi ini, kata dia, menggeser warga setempat baik yang berjualan di pasar maupun tempat-tempat lain.

Terlebih, kata dia, Kabupaten Bogor masih punya lahan atau tempat yang bisa dipilih menjadi lokasi penampungan baru bagi para imigran ini.

"Sehingga (imigran) sudah mulai menggeser orang setempat baik di pasar maupun di tempat-tempat lain bahkan sampai ke Pakansari mereka berdagang. Kalau bercampur dengan tempat wisata, kami khawatir mengganggu para wisatawan sehingga membuat tidak nyaman wisatawan. Banyak kok tempat, tinggal dipilih saja, mau Gunungsindur, Parungpanjang atau Tenjo, masih banyak tempat kosong," ungkap Ade Yasin.

Penulis: Naufal Fauzy
Editor: Ardhi Sanjaya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved