Sukajaya Diterjang Longsor

Menembus Lokasi Terisolir di Sukajaya Bogor, Tempat Ribuan Pengungsi Dikepung Puluhan Titik Longsor

Ada 7 desa diantaranya terisolir karena terkepung puluhan titik longsor yang menutupi akses jalan yang berada di wilayah Kecamatan Sukajaya.

TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Kondisi jalan pasca Lokasi longsor di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jumat (3/1/2020). 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, SUKAJAYA - Momen tahun baru 2020, wilayah Kabupaten Bogor diliputi bencana banjir dan longsor yang terjadi di puluhan titik lokasi.

Sedikitnya ada 47 desa di Kabupaten Bogor yang terdampak banjir dan longsor ini.

Ada 7 desa di antaranya terisolir karena terkepung puluhan titik longsor yang menutupi akses jalan yang hampir semuanya ada di wilayah Kecamatan Sukajaya.

Ribuan warga korban longsor di desa-desa ini pun bertahan di pengungsian dengan makanan seadanya.

Pasca hari kejadian bencana, Kamis (2/1/2020), TribunnewsBogor.com mencoba menjangkau lokasi terisolir di wilayah Kecamataan Sukajaya dengan kendaraan roda dua.

Kondisi jalan pasca Lokasi longsor di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jumat (3/1/2020).
Kondisi jalan pasca Lokasi longsor di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jumat (3/1/2020). (TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy)

Desa pertama yang kami kunjungi adalah Desa Harkatjaya dan Desa Sukajaya.

Lokasi dua desa ini kami dapati sama sekali tak bisa diakses oleh kendaraan roda empat.

Bahkan untuk kendaraan roda dua pun cukup sulit dan juga berbahaya.

Di daerah perbatasan Kecamatan Nanggung - Sukajaya, kami dihadapkan dengan alat berat yang tengah membuka jalur yang tertutup longsor.

Antrean kendaraan roda dua yang panjang tidak terhindarkan di titik ini.

Di titik ini, pertama kalinya motor rombongan kami terjebak di antara lumpur yang dalam.

Butuh 1 atau 2 orang untuk membantu mengangkat dan mendorong motor kami yang terjebak itu demi melanjutkan perjalanan.

Selama perjalanan, beberapa kali motor rombongan kami terjebak di tengah lumpur seperti ini.

Sedikitnya ada 8 titik longsor yang kami lewati sebelum sampai ke lokasi ditambah sejumlah jalan amblas dan retakan aspal yang menganga.

Memang, selama perjalanan kami juga sempat melihat beberapa plang peringatan yang menunjukan bahwa kami telah memasuki kawasan 'rawan longsor.'

Sejumlah jalan memutar kami lewati karena ada pula titik longsoran tanah menutup jalan yang sama sekali tak bisa dilewati kendaraan roda dua.

Semakin jauh kami melakukan perjalanan, sinyal atau jaringan provider di ponsel kami perlahan menghilang.

Kampung Mati di Harkatjaya

Setelah menempuh jarak sekitar 44 km dari Kota Bogor, hari itu kami tiba di lokasi longsor Desa Harkatjaya.

Dua kampung yakni Kampung Banar dan Kampung Sinarharapan di desa ini terpantau sudah dalam kondisi tak lagi dialiri listrik.

Dua kampung yang kami temui ini terpantau sudah kosong laiknya kampung mati setelah ditinggalkan ratusan warganya untuk mengungsi.

Bahkan motor dan mobil milik warga terpantau dibiarkan begitu saja.

Para korban longsor terpantau mengungsi di sekolah, rumah kosong dan juga rumah-rumah kerabat mereka.

Kondisi kampung tak berpenghuni di Desa Harkatjaya, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Kamis (2/1/2020)
Kondisi kampung tak berpenghuni di Desa Harkatjaya, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Kamis (2/1/2020) (TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy)

Namun, kondisi para pengungsi di Desa Harkatjaya ini harus hidup berhari-hari tanpa listrik.

Untuk penerangan pun, mereka hanya bermodalkan lilin.

Di lokasi ini ada 4 warga ditemukan tewas karena tertimbun longsor yang salah satunya adalah bocah umur 5 tahun.

Keesokan harinya, pada Jumat (7/1/2020) pagi kami menuju lokasi longsor selanjutnya yakni di Kampung Ciputih Tonggoh, Desa Sukajaya yang tak terlalu jauh dari lokasi longsor pertama.

Di kampung ini ada sekitar 30 rumah hilang diterjang longsor.

Namun beruntung tak ada korban jiwa dalam longsor di kampung ini.

Kondisi kampung ini juga kami dapati laiknya kampung mati setelah ratusan warganya pergi mengungsi.

Tidak hanya itu, di hari ketiga pasca bencana, ratusan warga korban longsor yang mengungsi di rumah-rumah yang tersisa di kampung ini harus bertahan tanpa bantuan apapun karena akses jalan yang sulit.

Tidak ada posko, tidak asa tenda darurat, bahkan kami tidak menemukan petugas yang melakukan evakuasi apapun.

Selama tiga hari, mereka satu sama lain saling berbagi makanan yang ada demi bertahan hidup.

Sampai akhirnya, jelang sore hari, ratusan warga di kampung ini mendapat sedikit bantuan dari sejumlah pejabat Pemkab Bogor yang datang untuk melakukan survey ke lokasi longsor di kampung ini.

Menuju pengungsian paling terisolir, Desa Pasir Madang

Di Desa Sukajaya, hari itu kami mendapati informasi dari masyarakat bahwa masih ada desa lain yang cukup terisolir, yakni Desa Pasir Madang yang masih masuk Kecamatan Sukajaya.

TribunnewsBogor.com pun melanjutkan perjalanan ke desa tersebut.

Akses menuju desa ini, terpantau sama sekali tidak bisa dilewati kendaraan roda dua.

Longsor yang menutupi akses jalan menuju desa ini terpantau berukuran cukup besar sehingga warga pun kesulitan untuk membuka akses jika hanya dengan menggunakan perkakas biasa.

Kondisi medan jalan untuk menuju Desa Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Minggu (5/1/2020).
Kondisi medan jalan untuk menuju Desa Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Minggu (5/1/2020). (TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy)

Atas informasi warga, kami pun melakukan perjalanan dengan cara jalan kaki melalui jalan setapak.

Cuaca hujan deras yang kembali mengguyur mengurungkan niat separuh dari rombongan kami untuk melanjutkan perjalanan.

Meski begitu, perjalanan TribunnewsBogor.com ke lokasi tetap dilanjutkan demi mengetahui kondisi para pengungsi di Desa Pasir Madang.

Dalam perjalanan, kami harus memutar melalui perbukitan dan melintasi jalanan terjal berlumpur dan licin.

Selain itu kami harus melintasi jembatan darurat terbuat dari bambu serta kami harus melewati gunungan lumpur longsor yang menutup akses jalan.

Sedikitnya ada tiga titik lokasi longsor yang harus kami lewati untuk menuju lokasi.

Karena hujan yang deras, terkadang kami memilih berlari kencang saat melintasi lumpur titik longsor dikhawatirkan, hujan yang turun mengundang longsor susulan.

Butuh waktu tempuh 2 jam lamanya berjalan kaki untuk menjangkau ke lokasi tujuan kami.

Karena perjalanan naik turun bukit ini cukup menguras tenaga dan lambat, perjalanan kami memakan waktu hampir 3 jam untuk sampai ke lokasi.

Di Desa Pasir Madang sendiri ada 6 kampung mati atau kampung yang ditinggal warganya karena terdampak longsor.

Ada sekitar 1000 warga mengungsi di dua lokasi yakni di sebuah masjid dan kantor desa.

Kantor Kecamatan Sukajaya yang terletak di desa ini juga lumpuh karena ikut terisolir.

Para pengungsi menyebut bahwa di hari ketiga pasca longsor itu, belum ada satu pun bantuan yang datang.

Harus berjalan kaki saat menuju lokasi pengungsian paling terisolir di Desa Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya karena akses jalan terputus akibat longsor
Harus berjalan kaki saat menuju lokasi pengungsian paling terisolir di Desa Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya karena akses jalan terputus akibat longsor (TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy)

Untuk bertahan hidup, mereka menggunakan stok makan yang tersisa dan makanan yang bisa diselamatkan dari lokasi longsor.

Bahkan para pengungsi harus saling berbagi makanan untuk bertahan di pengungsian tanpa listrik, tanpa jaringan telepon seluler dan juga terbatasnya air bersih.

Sejumlah pengungsi yang terbaring sakit pun dibiarkan berhari-hari tanpa diobati karena belum menerima bantuan pengobatan.

Seorang ibu hamil yang mengalami pendarahan bahkan terpaksa digotong oleh beberapa orang menggunakan sarung dan bambu ke puskesmas melintasi jalanan terjal yang kami lalui sebelumnya.

Korban longsor di Desa Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor
Korban longsor di Desa Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor (TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy)

Penyaluran bantuan kepada para pengungsi di Desa Pasir Madang akhirnya dilakukan menggunakan jalur udara.

Pada Selasa (7/1/2019), akses jalan ke Desa Pasir Madang berhasil di tembus setelah 11 alat berat diterjunkan oleh Menteri PUPR Basuki.

"Ke Desa Pasir Madang sekarang sudah tembus, tinggal ke sananya yang belum," kata Waki Bupati Bogor Iwan Setiawan, Selasa (7/1/2020).

Masih di wilayah kecamatan yang sama, alat berat masih berupaya membuka jalan yang tertutup longsor lainnya seperti ke daerah yang masih terisolir yakni Desa Cisarua, Desa Cileuksa dan Desa Urug.(*)

Penulis: Naufal Fauzy
Editor: Damanhuri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved