Bogor Diterjang Longsor

Soal Relokasi Korban Longsor Sukajaya Bogor, Kepala Desa Pasir Madang Singgung Zona Merah

Kepala Desa Pasir Madang, Encep Sunarya mengatakan bahwa warganya yang termasuk di wilayah terdampak bencana longsor Sukajaya belum siap direlokasi.

Soal Relokasi Korban Longsor Sukajaya Bogor, Kepala Desa Pasir Madang Singgung Zona Merah
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Pemukiman di Desa Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor jadi 'Kampung Mati' setelah ditinggal para penghuninya pasca diterjang longsor awal tahun baru 2020. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, SUKAJAYA - Kepala Desa Pasir Madang, Encep Sunarya mengatakan bahwa warganya yang termasuk di wilayah terdampak bencana longsor Sukajaya belum siap direlokasi.

Hal ini dikarenakan lokasi relokasi yang jauh serta berat meninggalkan kampung halaman dan kampung kelahiran sendiri.

Meski begitu, warga Desa Pasir Madang tetap akan memikirkan matang-matang dan mengambil keputusan dari dua opsi yang ditawarkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

"Kami menjawab permintaan masyarakat harus berdasar, kita tunggu hasil dari ahli geologi seberapa rentan tingkat bencana yang ada di Desa Pasir Madang. Nanti kami sosialisasikan ke masyarakat kalau seandainya Desa Pasir Madang ini masuk zona merah (rawan bencana)," kata Encep, Selasa (28/1/2020).

Encep menjelaskan bahwa sampai saat ini ada 10 posko penanganan bencana di desanya yang terdiri dari pengungsi korban bencana sebanyak 540 KK dari total penduduk 1.354 KK.

Diberitakan sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menawarkan 2 opsi kepada para pengungsi korban bencana di Desa Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, dalam kunjungannya, Selasa (28/1/2020).

Para pengungsi diminta memilih untuk tinggal di lokasi wilayah Pasir Madang atau direlokasi ke lokasi lain di Cigudeg yang berjarak 15 km.

"Jadi, ada dua opsi hari ini. Tetap di sini tapi harus dicek dulu oleh ahli atau opsi kedua yang sebenarnya lebih kami sukai karena memindahkan (relokasi), tidak terpencar-pencar, langsung semuanya di lokasi yang sama,” kata Emil, sapaan akrabnya.

Emil berharap bahwa warga segera memutuskan dari dua opsi tersebut sehingga pada awal Februari 2020 mendatang bisa dilakukan pembangunan tempat relokasi.

“Kita sudah ada tempat 15 km dari sini. Ada tanah luas milik PTPN yang akan kita kondisikan sebagai perkampungan baru, jadi bedol desa. Karena lahannya juga lahan hijau, jadi selain rumah nanti kita bisa sediakan tempat bercocok tanam atau bekerja sama dengan PTPN mengelola tanah pertanian,” ungkap Emil.

Editor: Mohamad Afkar Sarvika
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved