Belatung Maggot Asal Bogor Tembus Pasar Inggris, Dijual Seharga Rp 1,2 Miliar
Syahrul juga menyampaikan bahwa ekspor larva ini menjadi bukti nyata untuk membangkitkan minat generasi muda terjun ke sektor pertanian.
Penulis: Lingga Arvian Nugroho | Editor: Damanhuri
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR BARAT - Tumpukan kardus berisi belatung maggot kering yang bertuliskan black soldier fly dried larvae tersusun rapi di dalam kontainer yang akan di ekspore ke Inggris.
Maggot tersebut berasal dari Black soldier fly (BSF) adalah serangga penghasil larva atau magot yang kemudian diberipakan bungkil sawit.
Magot yang diproduksi oleh PT Sahabat Tani Farm dan akan diekspor oleh Bio Cycle Indo yang masih dalam satu naungan managemen tersebut berisi 7,5 ton belatung maggot dalam satu kontainer.
Ada tiga kontainer berisi maggot kering yang akan diekspor menembus pasar Inggris.
Direktur Utama PT Sahabat Tani Farm Budi Tanaka mengatakan bahwa nilai ekspore tiga kontainer maggot yang akan diekspor ke Inggris tersebut memiliki nilai sekitar Rp 1,2 Miliar.
"Satu kontainer berisi 7,5 ton dengan nilai kurang lebih sekitar Rp 400 juta lebih satu kontainernya," katanya.
Tidak hanya ke Ingris, maggot asal Bogor ini juga pernah diekspor ke Amerika, Belanda, Jepang, Singapur, dan Malaysia.
Selain itu kedepan, Budi mengatakan bahwa maggot ini juga akan diekspor ke Thailand dan Kanada.
"Ini trail projek untuk membuat skala besarnya di Pekanbaru dan Kalimantan, sambil persiapan dan belajar karena ini kan dunia termasuk induatri baru, jadi kita maksimalkan yang di Bogor," ujarnya.
Budi memastikan bahwa kualitas maggot yang akan diekspore ini memiliki kualitas yang dibutuhkan internasional.
"Kualitas kita jauh berbeda dengan kualitas larva lain dari negara lain seperti kita tau larva ini adalah belatung dan belatung identik dengan namanya jijik atau kotor tapi disini kita besarkan dari bungkil sawit ini bersih dan bisa dilacak yang seperti negara lain," ujarnya.
Dalam pelepasan ekspor maggot menembus pasar Inggris itu juga dihadiri oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan Wakil Wali Kota Bogor.
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, bahwa kegiatan ini sebagai bagian upaya Kementerian Pertanian (Kementan) menggenjot PDB Indonesia dan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan ekspor berbagai komoditas pertanian.
"Ini luar biasa, menembus Inggris itu adalah pride sebuah negara, dan tidak gampang menembus Inggris, Bogor hari ini mencetak sebuah arah seperti itu, biasanya kita bisa tembus Inggris setelah melalui Italia atau Jerman, Roma, kalian sudah tembus langsung berarti itu pintu yang bagus untuk pintu pertanian Indonesia kedepan" katanya saat memberikan sambutan di lokasi pelepasan ekspor di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Bubulak, Kota Bogor Barat, Selasa (3/03/20).
Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa Indonesia memerlukan pelaku usaha yang terus melakukan inovasi untuk menumbuhkan produk ekspor baru atau emerging seperti larva kering ini.
Tidak hanya itu, negara tujuan baru pun perlu terus diperluas.
Menurutnya, berkoordinasi dan bersinergi memperkuat jejaring antara pemerintah pusat, daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk mendorong potensi ekspor pertanian dalam memasuki pasar global.
"Hari ini Bogor membuktikan ada komoditas yang bisa diekspor dan itu tidak ada dinegara lain, larva kering ini menjadi contoh bahwa sebenarnya kemampuan produk negeri ini menembus kebutuhan dunia sangat terbuka luas,"ucapnya.
Syahrul juga mengajak untuk manfaatkan fasilitasi KUR yang tersedia, selain untuk meningkatkan pengolahan sehingga dapat diekspor dalam bentuk jadi, atau minimal setengah jadi.
Selain itu Syahrul juga menyampaikan bahwa ekspor larva ini menjadi bukti nyata untuk membangkitkan minat generasi muda terjun ke sektor pertanian.
Ia mencontohkan bungkil sawit dapat dijadikan pakan ternak, kemudian larvanya menjadi makanan yang nilainya sangat mahal di luar negeri.
Disisi lain komoditas larva sangat dibutuhkan oleh seluruh dunia.
"Kalau begitu tinggal anak-anak mau berada dalam posisi apa, mau dia menjadi off taker dari pembeli saja atau mau dia menjadi pembudidaya, kemudian bisa juga menjadi trading, kalau begitu tinggal mereka (anak muda, res) memilih konsep-konsep yang sudah tersedia," tuturnya.
Sementara itu Wakil Walikota Bogor, Dedie A Rachim mengatakan jika ingin anak anak muda saat ini dapat mencontoh apa yang sudah dilakukan PT Bio Cycle Indo.
"Mudah-mudahan apa yang sudah di contohkan oleh teman-teman Biocycle bisa menginspirasi kita semua bahwa ada sesuatu yang positif dari kreatifitas anak muda," kata Dedie.
Dedie juga mengatakan jika kebanyakan pendapatan kita Bogor ada dari sektor jasa didalamnya restoran, hotel, kuliner tetapi dengan tambahan adanya satu kreatifitas tentunya akan memberikan harapan kota Bogor mendapatkan PAD yang lain yang lebih termasuk juga penyerapan tenaga kerja untuk masyarakat.
"Tentunya akan memberikan harapan kota Bogor mendapatkan PAD yang lain yang lebih termasuk juga penyerapan tenaga kerja untuk masyarakat kota Bogor," ujarnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/budidaya-maggot-di-rumah-potong-hewan-rph.jpg)