Breaking News:

Kabar Artis

Gara-gara Punya Sifat Ini, Sarwendah Bongkar Pernah Datangi Psikolog: Takutnya Sedih atau Depresi

Karena punya sifat ini, Sarwendah istri Ruben Onsu pun mengaku sempat diliputi ketakutan dan langsung mendatangi psikolog.

Penulis: Uyun | Editor: Vivi Febrianti
Youtube Jessica Iskandar
Datangi Psikolog Gara-gara Punya Sifat Ini, Sarwendah blak-blakan kepada Jessca Iskandar soal ketakutannya 

Bagi beberapa orang, memiliki jadwal harian terperinci adalah suatu keharusan agar aktivitas mereka berjalan sempurna.

Bahkan, beberapa orang pun bisa merasa cemas karena hal sepele seperti pakaian di lemari yang tidak tertata sesuai dengan warnanya.

Lalu, tak sedikit orang yang memiliki sikap perfeksionis, sehingga segala sesuatunya ingin berjalan sempurna tanpa ada kesalahan sekecil apa pun.

Namun, sikap perfeksionis tersebut bisa juga disebabkan karena penyakit mental obsessive compulsive disorder ( OCD) atau gangguan obsesif kompulsif.

Dilansir dari Kompas.com , OCD bisa disebabkan karena sikap perfeksionisme. Namun, sifat perfeksionisme tidak terlalu ekstrem seperti OCD.

Ruben Onsu nekat lakukan ini kepada Sarwendah, Betrand Peto pasang badan lindungi sang bunda
Ruben Onsu nekat lakukan ini kepada Sarwendah, Betrand Peto pasang badan lindungi sang bunda (Instagram @ruben_onsu)

"Dari tingkat tinggi, cara terbaik untuk berpikir antara OCD dan perfeksionisme adalah dengan berpikir tentang siapa yang dilayani oleh perilaku ini dan siapa yang mengganggu?"

Demikian dikatakan psikiater Joseph Baskin. Menurut Baskin, orang dengan gangguan obsesif-kompulsif tahu bahwa perilaku mereka bermasalah tetapi mereka tidak bisa menghentikannya.

Sementara itu, orang-orang dengan perfeksionisme tidak peduli dan berusaha sebisa mungkin agar hidup mereka teratur.

Geger Makhluk Pengisap Darah, Bupati Tapanuli Utara Beri Hadiah Rp 10 Juta Bagi yang Bisa Menangkap

OCD adalah gangguan kesehatan mental yang melibatkan pikiran berulang, tidak diinginkan, atau dorongan yang menyebabkan kecemasan seseorang.

Untuk mengurangi kecemasan itu, individu melakukan tindakan atau ritual kompulsif. Kadang-kadang tindakan yang mereka lakukan tidak selalu terkait dengan ketakutan atau kecemasan yang mereka coba atasi.

Mereka mungkin mengerti apa yang mereka lakukan itu tidak rasional tetapi masih menghabiskan waktu berjam-jam untuk melakukannya.

Penderita OCD terkadang takut kuman atau ingin menghitung kebutuhan atau hal-hal tertentu dalam jumlah tertentu.

"Terkadang itu hanya pemikiran obsesif bahwa mereka tidak bisa keluar dari kepala mereka," tambah Baskin. 

Misalnya, seseorang dengan pikiran obsesif tentang keselamatan mereka sendiri atau keselamatan orang yang mereka cintai. Atau, mungkin merasa perlu untuk membuka kunci dan mengunci pintu depan mereka berulang kali sebelum meninggalkan rumah.

"Mereka sadar tidak harus melakukannya, tetapi mereka tetap melakukannya, karena tidak membuat kecemasan mereka tak tertahankan," ucap Baskin.

Hal ini tentu sangat mengganggu individu yang mengalaminya.

KA Lokal Lintas Bogor Sukabumi Belum Beroperasi Hingga 30 Juni 2020

Sementara, seseorang yang berkepribadian perfeksionisme mungkin juga memiliki kebiasaan atau ritual yang mereka ikuti dengan kaku. Misalnya, rutinitas pagi tertentu atau cara mengatur meja tempar mereka bekerja.

Tetapi, mereka tidak melakukannya karena kecemasan.

"Mereka puas melakukan hal-hal itu karena itu bekerja dengan baik untuk mereka, bahkan jika itu membuat orang lain gila," kata Baskin.

Seseorang yang perfeksionis memiliki harapan tinggi untuk diri mereka sendiri dan orang lain.

Ciri kepribadian ini biasanya dikaitkan dengan cara pengaturan yang baik dan perilaku yang berorientasi pada tujuan.

Perfeksionisme yang sehat dapat mendorong sebagian orang untuk mencapai keunggulan.

Di sisi lain, standar tinggi ini juga dapat mendorong orang untuk menjadi sangat kritis terhadap diri sendiri dan orang lain. Baskin mengingatkan, kesempurnaan adalah "musuh" kebaikan.

“Ketika perfeksionisme menjadi problematis, individu itu sendiri biasanya adalah orang terakhir yang tahu,” kata dia.

Seseorang dengan perfeksionisme ekstrem dan tidak sehat mungkin juga mendapat manfaat dari psikoterapi.

"Tetapi orang-orang ini sering tidak mencari bantuan, karena mereka tidak berpikir ada sesuatu yang salah," kata Baskin.

Mereka yang mengalami gangguan ini biasanya mempengaruhi kualitas hidup mereka. Namun, Baskin mengatakan perawatan yang tepat dapat membantu meningkatkan kualitas hidup mereka. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved