Breaking News:

Penanganan Covid

Cerita Dokter di Bogor yang Tangani Pasien Covid-19: Kasusnya Tidak Dapat Diprediksi

Namun, dokter yang menangani pasien Covid-19 di Kota Bogor rupanya tetap dihadapkan kepada susuatu yang tidak dapat diprediksi dalam hal ini.

TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
ILUSTRASI - Seorang petugas medis mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) di ruang isolasi khusus pasien virus corona (covid-19) di RSUD Cibinong. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Gejala orang yang terpapar virus corona atau Covid-19 diketahui biasanya berupa demam, batuk pilek dan disertai gangguan pernapasan.

Namun, dokter yang menangani pasien Covid-19 di Kota Bogor rupanya tetap dihadapkan kepada susuatu yang tidak dapat diprediksi dalam hal ini.

Hal ini diungkapkan oleh dr Yeti Haryati saat memberikan sosialisasi tentang Covid-19 di Bogor Tengah, Kota Bogor belum lama ini.

"Yang paling kami rasakan selama merawat pasien Covid-19 bersama teman-teman juga di RSUD Kota Bogor, itu kasusnya unpredictable (tidak dapat diprediksi)," kata dr Yeti.

Dia menjelaskan bahwa petugas medis bisa menemukan pasien yang normal tanpa gejala namun ketika di-swab hasilnya positif Covid-19.

Hal ini pun, kata dia, tidak hanya terjadi di kalangan orang tua, kalangan muda pun demikian.

"Bisa jadi semua normal, di-swab positif. Jadi gak selalu gambarannya khas, bisa jadi tujuh hari pertama desaturasi dan memerlukan alat ventilator. Gak tergantung usia, ada yang muda tiba-tiba memburu, jadi kita disebutnya unpredictable," katanya.

Maka, kata dia, apabila seseorang hasil swabnya sudah positif corona, dia pasti akan dirawat dengan tata laksana khusus.

Di tangah meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di Bogor akhir-akhir ini, dia mengimbau kepada masyarakat untuk jaga protokol kesehatan seperti menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan (3M) demi terhindar dari virus ini.

"Virus itu membutuhkan 1.000 partikel dalam menginfeksi. Kalau kita bernapas mengeluarian 20 partikel, kalau kita bicara 200 partikel. Jadi kalau kita bilang, ini makanannya enak ya, tanpa masker itu sudah menularkan karena masuk 1.000 partikel itungannya. Maka dari itu, 3M itu merupakan cara konvensional yang sangat bagus, WHO pun sudah merekomendasikan," ungkapnya.(*)

Penulis: Naufal Fauzy
Editor: Vivi Febrianti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved