Breaking News:

Hari Batik Nasional, Sertifikasi Motif Batik Menjadi Penting Bagi Pengerajin Batik di Bogor

Saat ini Handayani Geulis yang mimiliki 65 motif batik, 13 motif di antaranya sudah disertivikasi.

Penulis: Lingga Arvian Nugroho
Editor: Vivi Febrianti
TRIBUNNEWSBOGOR.COM/LINGGA ARVIAN NUGROHO
Owner Batik Bogor Handayani Geulis, Sri Ratna Handayani Budi saat memperlihatkan batik karyanya, Jumat (2/10/2020). 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR UTARA - Motif batik tidak hanya sekedar goresan canting pada lembaran kain.

Namun motif batik merupakan sebuah karya yang juga perlu memiliki sertifikasi.

Seorang pengerajin dan pengusaha batik,  yakni owner Batik Bogor Handayani Geulis, a mengatakan bahwa sertifikasi motif batik menjadi hal yang penting sebagai identitas diri dan originalitas karya pengerajin batik.

Saat ini Batik Handayani Geulis yang mimiliki 65 motif batik, 13 motif di antaranya sudah disertivikasi.

Ia pun bercerita pengalamannya ketika mengikuti pameran di luar negeri.

Ketika itu ia membeli oleh-oleh batik dari negara yang dikunjunginya itu.

Namun rupanya ketika dibawa ke Indonesia, batik tersebut berasal dari suatu pulau di Indonesia.

"Iya ternyata batik itu awalnya yang buat motif dari Indonesia, tapi karena tidak disertifikasi oleh pengerajin itu kemudian diadopsi atau ditiru oleh negara lain," ujarnya katanya saat ditemui di Jalan Bogor Baru A3 No.16, Kelurahan Tegal Gundil, Kecamatan Bogor Utara, RT.04/RW.03, Kota Bogor, Kamis (1/9/2020).

Dari sanalah Sri Ratna Handayani Budi kemudian mulai mendaftarkan motif batiknya ke Hak Kekayaan Intelektual ( HAKI) dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia untuk mendapatkan sertifikasi.

Proses yang dilaluinya pun beragam, ada yang satu bulan bahkan ada yang satu tahun.

"Kalau proses sertifikasi bisa dikatakan mudah dan sulit tergantung motif yang akan didaftarkan, misal motifnya ini diketahui mirip dengan batik darimana, nah pihak HAKI akan terus mencari apakah ada yabg sama atau tidak,  terus jika motif batiknya sulit sertifikasinya kemungkinan akan lama juga," katanya.

Ia pun menjelaskan bahwa keuntungan sertifikasi juga bisa mendongkrat nilai jual dan daya saing.

Karena dengan motif yang sudah disertifikasi berarti ada originalitas dari motif batik yang dibuat.

"Jadi bagi saya dengan sertifikasi itu rasa memiliki bisa lebih tinggi, dan juga melindungi larya dari pembajakan atau tiruan apalagi saat ini kan masuk lasar bebas pasar global, dengan sertifikasi intulah bentuk identitas dan jatidiri, artinya supaya kita lebih bangga bahwa ini identitas kita," katanya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved