Kuliner Bogor

Berdiri Sejak Tahun 1970, Ini Kisah Turun Temurun Dodol Bojonggede

Menjadi pewaris usaha dodol satu-satunya membuat Agus Sulaiman tertantang untuk meneruskan salah satu makanan tradisi asli

Tayang:
Penulis: Yudistira Wanne | Editor: Damanhuri
TribunnewsBogor.com/Yudistira Wanne
Dodol asli Bojonggede 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Yudistira Wanne

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOJONGGEDE - Menjadi pewaris usaha dodol satu-satunya membuat Agus Sulaiman tertantang untuk meneruskan salah satu makanan tradisi asli yang berasal dari Desa Bojonggede, Kabupaten Bogor.

Pada tahun 1970, dodol asli Bojonggede diawali oleh pasangan Mandor Tholib dan istrinya bernama C Marhaya yang hingga saat ini terkenal menjadi salah satu makanan tradisional asli Bojonggede.

Agus yang merupakan putra dari kedua pasangan tersebut memulai debutnya sekitar tahun 2002. Dia mengaku bahwa dodol asli Bojonggede tidak boleh punah dimakan zaman.

"Saya generasi kedua. Saya mulainya itu sekitar tahun 2002. Generasi pertama itu orang tua saya yang merintis di tahun 1970. Ini memang asli Bojonggede," ujarnya kepada TribunnewsBogor.com, Senin (26/10/2020).

Generasi kedua penerus Dodol asli Bojonggede, Agus Sulaiman
Generasi kedua penerus Dodol asli Bojonggede, Agus Sulaiman (TribunnewsBogor.com/Yudistira Wanne)

Lebih lanjut, Agus bercerita bahwa sejak kecil dirinya kerap ikut orang tuanya berjualan dari satu tempat ke tempat yang lain.

"Orang tua saya dulu bikin sendiri bawa sendiri, saya sempat ikut orang tua saya, menjunjung dodol jualan, saya ikut naik kereta api jalan kaki dari rumah menuju Stasiun Bojonggede, saya ikut sampai gang Sentiong, Jakarta," jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, Agus berhasil mempertahankan tradisi yang sudah ada yakni menjalankan usaha dodol khas Bojonggede.

Tak hanya itu, Agus memberi nama usahanya yakni Dodol Bojong Indira'f yang diambil dari nama anaknya.

"Namanya Dodol Bojong Indira'f. Ini saya ngambil dari nama anak saya. Anak yang paling tua namanya Indira. Ternyata, itu nama Indira tergabung dari nama keempat anak saya tanpa sadar, pertama Indira, anak kedua namanya Dida, ketiga Arif dan anak keempat namanya Rafli. Mangkanya jadi Indira'f. F nya ini family," paparnya.

Bahkan, saat ini Agus mampu melakukan inovasi dengan menghadirkan beragam varian rasa di tempat usahanya yang berloaksi di Jalan Tugu Pahlawan Kampung Muara RT 01 RW 11, Blok C no 21.

"Sekarang itu menyediakan rasa original, wijen, ketan hitam, duren, dan kurma. Kurma ini belum ada sebulan," ungkapnya.

Untuk produk andalan, Agus bercerita bahwa saat ini varian rasa yang menjadi favorit masyarakat adalah rasa wijen.

"Paling favorit wijen. Karena anak-anak suka sekali dengan rasa ini," paparnya.

Terkait harga, Agus menjual produk dodolnya dengan harga bervariasi sesuai dengan varian rasa yang diinginkan pembeli.

"Harga jual itu bervariasi original Rp 40 ribu, wijen dan ketan hitam Rp 45 ribu, duren Rp 70 ribu dan kurma Rp 55 ribu," ujarnya.

Agus pun menjelaskan bahwa dodolnya memiliki ciri khas rasa tersendiri.

"Ciri khas dodol ini adalah manisnya pas, bervariasi," bebernya.

Dalam sehari, Dodol Bojong Indira'f mampu memproduksi 50 kg dengan jangkauan se-Nusantara.

"Dodol ini sudah distribusi ke nusantara ya. Sudah menyentuh Papua, Balikpapan, alhamdulillah seluruh wilayah di Indonesia sudah terdistribusi," jelasnya.

Selain itu, Agus menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 tak mengganggu proses produksi dan pemasaran.

"Pandemi yang pertama itu justru penjualan meningkat. Karena yang kerja di rumahkan berniat menjadi reseller. Resellernya kan memanfaatkan online. Itu melonjak pembelian. Nah sekarang menurun sedikit. Kalau dibilang sih penjualan stabil. Tidak terlalu terdampak," tandasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved