Gunung Merapi Berstatus Siaga, Diprediksi Tak Akan Sedahsyat Letusan 2010

Adanya peningkatan gempa guguran, menurut Rono bisa menyebabkan kubah lava yang terbangun oleh gempa-gempa vulkanik dangkal akan berguguran.

Editor: Vivi Febrianti
KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA
Gunung Merapi dilihat dari udara di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Berdasarkan data evaluasi pemantauan aktivitas vulkanik Gunung Merapi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi ( BPPTKG) Yogyakarta menaikkan status Gunung Merapi dari Waspada ke Siaga (level III), pada Kamis (5/11/2020).

Gunung Merapi tampaknya kembali memasuki fase intrusi magma baru, yang ditandai dengan peningkatan gempa vulkanik dalam (VA) dan rangkaian letusan eksplosif hingga 21 Juni 2020.

Dari data hasil pemantauan aktivitas vulkanik Gunung Merapi, setelah letusan eksplosif 21 Juni 2020 kegempaan internal yaitu VA, VB (Vulkanik Dangkal), dan Fase Banyak (MP) masih terus meningkat.

Selain itu, dari siaran pers yang diterima Kompas Sains, terjadi pemendekan jarak baseline EDM sektor barat laut Babadan sebesar 4 cm sesaat setelah terjadi letusan eksplosif 21 Juni 2020.

Terkait erupsi tersebut, ahli vulkanologi Surono mengatakan, jika dilihat dari data, semua aktivitas dangkal, tidak ada gempa dalam, dan tidak ada peningkatan energi tiba-tiba, sehingga potensi terburuk letusan gunung Merapi akan seperti tahun 2006.

“Kita jangan berandai-andai akan seperti 2010 ya, karena dari data dan parameter yang terdeteksi, gempanya tidak menunjukkan ke arah sana. Tidak akan menjadi letusan seperti 2010,” ujar Rono.

“Kalau diperhatikan, low frekuensi dan fase banyak itu menurun, tetapi gempa vulkanik dangkal agak sedikit meningkat. Jika aktivitasnya tetap seperti ini dan tidak ada peningkatan energi tiba-tiba, skenario terburuk letusannya akan seperti 2006,” lanjutnya.

Adanya peningkatan gempa guguran, menurut Rono bisa menyebabkan kubah lava yang terbangun oleh gempa-gempa vulkanik dangkal akan berguguran.

Sehingga, nantinya diharapkan akumulasi energi tidak begitu tinggi.

Ia juga menekankan, suatu proses letusan gunung api tidak selalu sama dengan yang lalu dan letusan Gunung Merapi tak bisa diprediksi kapan akan terjadi.

Apakah aktivitas Gunung Merapi saat ini akan diikuti letusan dalam waktu dekat atau tidak.

“Kita tidak tahu, apakah gempa-gempa vulkanik akan diikuti oleh guguran? Kalau gugurannya tidak signifikan, bisa meletus. Harapannya ada keseimbangan, ada yang masuk dan keluar, sehingga tidak ada penumpukan energi di sana,” tuturnya.

Karena itu, menurutnya sangat penting mengenali bagaimana gempa akan lahir, dengan memerhatikan berbagai parameter, seperti kembang kempisnya gunung, bagaimana gas sulfurnya, dan bagaimana saat menggelembung.

Parameter tersebut juga dikatakan Surono bisa menentukan kapan dan sejauh apa masyarakat harus mengungsi.

Menurutnya, jika aktivitas Gunung Merapi tetap seperti saat ini dengan risiko letusan seperti 2006, maka jarak pengungsian cukup di radius 6 kilometer.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved