Pilah Sampah Rumah Tangga, Warga Kelurahan Menteng Bisa Hasilkan Kompos Sendiri

Warga di perumahan Bumi Menteng Asri, Kota Bogor terus berbenah mempercantik lingkungannya.

Tayang:
Penulis: Lingga Arvian Nugroho | Editor: Vivi Febrianti
Ist
Ketua RT 2/19 Bambang Sulistiato mengatakan bahwa pada lingkup skala RT pihaknya bersama warga membuat pengolahan sampah dengan menggunakan lalat bsf atau lalat hitam yang nantinya berubah menjadi magot atau kasgot. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR BARAT - Warga di perumahan Bumi Menteng Asri, Kota Bogor terus berbenah mempercantik lingkungannya.

Mulai dari penataan aliran sungai, ruang terbuka hijau hingga pengolahan sampah.

Di RT 2/19 Kelurahan Menteng, Warga BMA mulai memilah sampah rumah tangga.

Meski masih dalam sekala kecil namun langkah itu menjadi lamgkah awal untuk mengurangi sampah.

Ketua RT 2/19 Bambang Sulistiato mengatakan bahwa pada lingkup skala RT pihaknya bersama warga membuat pengolahan sampah dengan menggunakan lalat bsf atau lalat hitam yang nantinya berubah menjadi magot atau kasgot.

"Iya magot itu sementara terbatas belum bisa seluruh warga itu hanya beberapa rumah saja jadi itu ngambil dari sampah rumah tangga yang sudah dipilah," katanya.

Bambang mengatakan bahwa ide itu muncul ketika warga dan pengurus RT mendapat masukan dari profesor di IPB.

Ketika itu warga dan pengurus RT melakukan study banding untuk melihat pengolahan sampah dengan lalat bsf.

"Kalau warga rajin memilah itu bisa diletakan jadi untuk kompos," ujarnya.

Bambang menjelaskan cara pengolahan sampah dengan lalat bsf adalah dengan cara memilah sampah rumah tangga organik sisa makanan, sisa sayur dan sisa buah kemudian dikumpulkan dalam satu wadah selanjutnya diberi larva dari lalat bsf.

Pengolahan itu pun tidak menimbulkan bau sehingga tidak mengganggu aktivitas warga.

Selain melakukan pengolahan sampah rumah tangga dengan magot seorang warga Sri Endah Astutie bersama suaminya membuat pengolahan sampah untuk bisa menghasilkan kompos cair.

"Iya jadi itu kita sudah memikah sampah dari dalam rumah sari piring makan, jadi di atas piring itu tidak voleh ada tisue dan bahan plastik sehingga bekas makanan atau sayur itu bisa dimasukan kedalam tong yang sudah berisi air hujan dan ampas tebu kemudian disatukan dengan bekas sampah tadi," katanya.

Astutie mengatakan Ia sudah satu tahun lebih melakukan pengolahan sampah dengan memilah sampah.

Untuk sampah plastik dipisahkan untuk diberikan kepada pemulung untuk dimanfaatkan lagi.

Sedangkan sampah kertas seepeti tisue dan lainnya dibakar.

Sedangkah sampah organik sayur dan bekas makanan lainnya diolah untuk menghasilkan pupuk cair

Astutie mengatakan bahwa motivasinya memilah sampah dari rumah adalah untuk mencoba mengurangi produksi sampah rumah tanggal yang dibuang ke tps.

"Jadi kalaub saya sudah misah sendiri gitu jadi tidak ada yang keluar lagi,  sampah kertas saya bakar tisue, kalau kaleng plastik saya kumpulkan buat pemulung gitu dan sampah makanan buah sayur itu saya kumpulkan untuk pupuk, jadi kita ini sudah terlalu banyak buang dampah dilaut ya plastik sudah enggak karuan ya kalau kita bisa memisahkan sampah ini satu bulan sudah lumayan pengurangan sampahnya," ujarnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved