Breaking News:

Ajudan dan Sespri Edhy Prabowo Dipanggil KPK sebagai Saksi

Mereka dipanggil sebagai saksi dalam kasus dugaan suap terkait izin ekspor bibit lobster yang menjerat Edhy.

Tribunnews/Irwan Rismawan
Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Edhy Prabowo mengenakan rompi oranye usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Rabu (25/11/2020) 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) menjadwalkan pemeriksaan ajudan dan sekretaris pribadi Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, Selasa (8/12/2020).

Mereka dipanggil sebagai saksi dalam kasus dugaan suap terkait izin ekspor bibit lobster yang menjerat Edhy.

"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka EP (Edhy)," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri, Selasa.

Ali menuturkan, ajudan Edhy yang dipanggil ialah Dicky Hartawan sedangkan dua sekretaris pribadi Edhy yang dipanggil ialah Fidya Yusri dan Anggia Putri Tesalonikacloer.

Selain itu, penyidik memanggil dua orang saksi lain untuk diperiksa dalam kasus ini yakni sales dari PT PLI bernama Ellen dan seorang ibu rumah tangga bernama Devi Komalah Sari.

Dalam kasus ini, Edhy diduga menerima uang hasil suap terkait izin ekspor benih lobster senilai Rp 3,4 miliar melalui PT Aero Citra Kargo (PT ACK) dan 100.000 dollar AS dari Direktur PT Dua Putra Perkasa (PT DPP) Suharjito.

PT ACK diduga menerima uang dari beberapa perusahaan eksportir benih lobster karena ekspor hanya dapat dilakukan melalui perusahaan tersebut dengan biaya angkut Rp 1.800 per ekor.

Uang tersebut salah satunya dari PT DPP yang mentransfer uang Rp 731.573.564 agar memperoleh penetapan kegiatan ekspor benih lobster.

Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango mengatakan, berdasarkan data, PT ACK dimiliki oleh Amri dan Ahmad Bahtiar.

Namun, diduga Amri dan Bahtiar merupakan nominee dari pihak Edhy Prabowo dan Yudi Surya Atmaja.

"Uang yang masuk ke rekening PT ACK yang diduga berasal dari beberapa perusahaan eksportir benih lobster tersebut, selanjutnya ditarik dan masuk ke rekening AMR (Amri) dan ABT (Ahmad Bahtiar) masing-masing dengan total Rp 9,8 miliar," kata Nawawi, Rabu (25/11/2020).

Selain Edhy, enam tersangka lain dalam kasus ini yaitu staf khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Safri dan Andreau Pribadi Misata, pengurus PT Aero Citra Kargo Siswadi, staf istri Menteri Kelautan dan Perikanan Ainul Faqih, Direktur PT Dua Putra Perkasa Suharjito, serta seorang pihak swasta bernama Amiril Mukminin.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "KPK Panggil Ajudan dan Sespri Edhy Prabowo sebagai Saksi"

Editor: Vivi Febrianti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved