Breaking News:

Penyebab Harga Cabai Melonjak Tinggi Awal Tahun 2021, Ini Penjelasan Pakar IPB University

Pakar cabai dari IPB University Prof Muhammad Syukur mengatakan bahwa memang ada produktifitas pertanian yang turun di awal tahun 2021 ini.

TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Pekan pertama awal tahun baru 2021 harga cabai di Bogor melambung cukup tinggi di pasar-pasar. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, DRAMAGA - Awal tahun baru 2021 harga cabai di pasaran melambung tinggi hingga mencapai Rp 100 ribu per 1 Kg.

Pakar cabai dari IPB University Prof Muhammad Syukur mengatakan bahwa memang ada produktifitas pertanian yang turun di awal tahun 2021 ini.

“Stok di petani sedang kurang. Ini karena beberapa sentra produksi sedang menanam padi atau tanaman lainnya sedangkan beberapa sentra yang lain produktivitasnya sedang turun akibat curah hujan tinggi,” kata Prof Muhammad Syukur dalam keterangan tertulisnya, Jumat (8/1/2021).

Terkait tingginya curah hujan, menurutnya hal ini dapat menurunkan produktivitas cabai mencapai 30 persen.

“Ini dapat terjadi akibat serangan penyakit yang meningkat. Untuk mengatasi ini, harus diantisipasi sejak awal penanaman dengan menerapkan teknik budi daya tertentu, bisa dengan jarak tanam renggang, drainase yang baik atau menggunakan rumah plastik,” tambahnya.

Ia juga menyarankan untuk menambah luas tanam cabai guna meningkatkan produksi cabai.

Menurut dia, kenaikan harga cabai ini bukan karena hari besar keagamaan maupun permintaan meningkat pada perayaan tahun baru tapi justru terjadi akibat ketersediaan produk yang menurun.

“Pada bulan November, Desember, Januari dan Februari curah hujan sangat tinggi di beberapa wilayah sehingga perlu diantisipasi. Selain itu, saat over supply di bulan-bulan tertentu, kelebihan produk harus segera diserap agar harga tidak turun drastis. Justru kalau dibiarkan harga turun terlalu lama akan memicu harga cabai yang naik di bulan-bulan selanjutnya,” katanya.

Untuk mengantisipasi keterbatasan stok ini, Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura (AGH), Fakultas Pertanian IPB University ini menjelaskan bahwa harus direncanakan sejak awal dengan strategi penyediaan mulai dari manajemen produksi.

Manajemen produksi ini dapat dilakukan dengan penyebaran sentra produksi dan perencanaan produksi sesuai agroklimat dan kebutuhan.

“Yang tidak kalah pentingnya adalah teknologi budi daya yang digunakan. Mulai dari penyediaan varietas tahan dan benih unggul, pengendalian organisme pengganggu tanaman dan teknologi produksi sepanjang tahun,” tambahnya.

Sementara, untuk proses pasca produksi ia menyarankan untuk melakukan pengolahan hasil saat over supply.

Syukur juga menyarankan supaya melakukan penguatan kelembagaan petani cabai.

Penulis: Naufal Fauzy
Editor: Vivi Febrianti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved