Persikabo 1973
Ulang Tahun ke-24, Ini Cerita Perjalanan Karir Gustur Cahyo Putro
Pemain yang lahir di Magelang 11 Januari 1997 itu mengatakan bahwa bapaknya pernah berbohong demi anaknya dapat bermain sepak bola.
Penulis: Yudistira Wanne | Editor: Mohamad Afkar Sarvika
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Yudistia Wanne
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CITEUREUP - Bekerja keras mengerahkan seluruh kemampuan untuk memberangkatkan haji kedua orang tua adalah impian gelandang sayap Persikabo 1973, Gustur Cahyo Putro.
Gustur yang hari ini merayakan hari ulang tahun ke-24 itu menceritakan bagaimana kerja keras orang tuanya dalam mengantarkan anak menjadi atlet sepak bola profesional.
Pemain yang lahir di Magelang 11 Januari 1997 itu mengatakan bahwa bapaknya pernah berbohong demi anaknya dapat bermain sepak bola.
Menurut Gustur, ketika itu sang ayah yang bernama Toto Prayitno berbohong dalam urusan sepatu sepak bola yang diberikan.
"Pernah pada saat SD, baru-baru ini bapak berani cerita, karena mungkin dulu bapak tidak berani buat cerita. Jadi memang, saya berangkat dari keluarga yang sederhana bukan keluarga yang mampu," ujarnya kepada TribunnewsBogor.com, Senin (11/1/2021).
"Dulu bapak saya membelikan sepatu waktu saya SD, dan bapak saya waktu itu memang tidak mampu untuk membelikan sepatu baru. Dulu, bapak bohong sama saya, waktu itu bapak pulang ke rumah bawa sepatu bekas merk Specs, saya masih ingat dan bapak itu bilangnya dipinjamin teman buat dipakai saya. Tapi, ternyata bapak bohong. Ternyata, sepatu itu dibeli dari loakan atau dibeli di pasar jual beli sepatu bekas," tambahnya.
Lebih lanjut, Gustur membeberkan bahwa kebohongan yang dilakukan bapaknya itu, semata-mata hanya ingin mendukung anaknya untuk bermain sepak bola.
"Dulu bapak beli diloakan, dengan kondisi bekas, mungkin saja dulu pikiran bapak saya tidak mau pakai karena itu sepatu bekas. Tapi dalam diri saya, sedalam-dalam hati, apapun yang dibeli orang tua pasti akan saya gunakan dengan senang hati. Walaupun itu sepatu bekas," bebernya.
Mendengar cerita ayahnya, sontak Gustur meneteskan air matanya dan tidak pernah berhenti untuk terus berbakti kepada kedua orang tua.
"Itu saya sampai nangis. Karena bapak baru-baru ini cerita kepada saya. Kalau dulu sepatu yang dibelikan kepada saya itu ternyata sepatu bekas. Tapi bapak bohong, dia bilang itu sepatu temannya yang dikasih ke bapak saya untuk digunakan untuk saya bermain sepak bola," paparnya.
"Itu momen yang bikin saya terenyuh. Sampai-sampai ketika saya kehilangan arah, putus asa, saya selalu ingat kejadian itu dan itu menjadi pelecut motivasi saya. Apalagi tentunya bapak membelikan sepatu itu dengan kerja keras dia, dengan susah payah sampai dia tidak bisa membelikan sepatu yang baru," sambungnya.
Gustur mengatakan bahwa ketika dirinya duduk di bangku Sekolah Dasar, bapaknya itu pergi merantau ke Bumi Tegar Beriman untuk berjualan kupat tahu.
"Jadi, bapak itu dulu sempat jualan makanan di belakang Stadion Mini, Cibinong. Namanya tahu kupat Magelang yang sekarang menjadi warung soto Sukaraja," ungkapnya.
Sementara itu, Gustur juga menceritakan tentang pengorbanan ibunya bernama Waktu Setyowati yang rela membelikan barang untuk anaknya walau harus kredit dan tanpa diketahui oleh sang buah hati.
"Untuk ibu, menurut saya wanita paling sempurna di dalam hidup saya, selain bapak, ibu juga banyak berkorban. Dulu itu, ibu menyisahkan uang belanjanya hanya untuk ngasih ongkos untuk saya naik angkot ke SSB," bebernya.
"Pada waktu itu, ibu saya pernah menjual perhiasan bahkan ibu saya setiap kali membelikan saya barang itu ibu saya nyicil. Tapi ibu saya tidak pernah bilang ke saya. Karena memang dulu hanya bapak yang kerja, ibu merupakan ibu rumah tangga mengurus saya dan adik-adik saya," tambahnya.
Gustur pun berharap di hari ulang tahunnya ini, sepak bola Indonesia dapat bergulir kembali.
Dengan begitu, Gustur akan giat pula menabung dan memberangkatkan kedua orang tuanya ke tanah suci.
"Impian saya masih sama. Semoga sepak bola ini segera bergulir, saya bisa mencari nafkah di sepak bola, bisa memberangkatkan haji kedua orang tua saya. Selama masih sehat, impian saya itu memberangkatkan haji kedua orang tua saya," tegasnya.
Tak hanya itu, Gustur juga menegaskan bahwa selama nafasnya berhembus, maka dirinya akan berupaya untuk terus berbakti kepada kedua orang tuanya.
"Jadi perjuangan, perjalanan, puncak karir saya, semuanya akan saya habiskan selama saya masih bujang dan sampai nanti suatu saat saya menikah, orang tua tetap menjadi prioritas, selagi saya mampu saya akan membantu kedua orang tua saya, kapanpun dan apapun yang orang tua saya minta. Insha Allah pasti saya akan berusaha ada untuk orang tua saya," ungkapnya.
Spesial di hari ulang tahunnya, Gustur pun mengucapkan rasa terima kasih kepada orang tuanya yang telah berjuang, bekerja keras demi kebahagiaan anaknya.
"Terima kasih kepada kedua orang tua, keluarga yang telah mendukung saya selama ini berkarir di sepak bola selama 7 tahun," ujarnya.
Semoga diumur saya yang ke-24 tahun ini, saya menjadi pribadi yang lebih baik dalam segi apapun, tumbuh dalam segala hal baik karir sepak bola, kerja, maupun beribadah semoga lebih baik lagi ke depannya.
Nama: Gustur Cahyo Putro
Orang tua
- Ayah: Toto Prayitno
- Ibu: Waktu Setyowati
Adik:
- Katon Wahyu Jatmiko
- Sukma Endah Pratiwi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/gustur-cahyo-putro-usai-melakukan-latihan-bersama-tim-persikabo-1973.jpg)