Sriwijaya Air Jatuh

Tim DVI Alami Kendala saat Identifikasi Jenazah Korban Sriwijaya Air Lewat DNA, Ini Penjelasannya

Dalam proses identifikasi lewat pencocokan sampel DNA antemortem (sebelum kematian) dari keluarga korban dengan postmortem (setelah kematian)

Editor: Damanhuri
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Tampak depan Instalasi Forensik RS Polri Kramat Jati lokasi penyerahan jenazah korban Sriwijaya Air SJ-182, Selasa (19/1/2021). 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Proses identifikasi korban Sriwijaya Air SJ-182 lewat pencocokan data DNA yang dilakukan Tim Disaster Victim Identification ( DVI) menemui kendala.

Dalam proses identifikasi lewat pencocokan sampel DNA antemortem (sebelum kematian) dari keluarga korban dengan postmortem (setelah kematian) dari jenazah korban.

 Katim Rekonsiliasi Tim DVI Kombes Agung Widjajanto mengatakan tidak semua data posmortem yang meliputi bagian tubuh jenazah bisa diambil DNA-nya untuk diidentifikasi.

"Dengan berlalunya waktu tidak semua (bagian tubuh jenazah) bisa diperiksa. Kenapa? Karena DNA terurai, salah satunya karena pembusukan," kata Agung di RS Polri Kramat Jati, Rabu (20/1/2021).

Semakin lama waktu evakuasi jenazah setelah kematian maka kondisinya makin sulit untuk dilakukan pemeriksaan dan pengambilan sampel DNA.

Proses pengambilan sampel DNA dari jenazah jadi lebih sulit bila sudah terkontaminasi berbagai macam bakteri di lokasi meninggalnya korban.

"Dengan proses yang lama, misalnya jaringan kulit akan mengalami pembusukan sehingga tidak bisa dilakukan pemeriksaan DNA," ujarnya.

Proses pembusukan ini juga membuat identifikasi lewat sidik jari yang merupakan satu dari tiga parameter identifikasi kini sulit dilakukan.

Beda dengan sidik jari yang membutuhkan bagian jari, sampel DNA dari jenazah bisa diambil dari berbagai bagian tubuh jenazah lewat uji laboratorium.

Termasuk tulang dan jaringan otot, proses pengembalian sampel DNA dari jenazah ini bergantung pada bagian tubuh jenazah yang berhasil dievakuasi Tim SAR.

"Tim DNA sudah memilah mana yang bisa diperiksa dan mana yang tidak. Sebagai contoh bila ditemukan rambut tidak bisa diperiksa, maka tidak akan diambil sampel. Namun sejauh ini hampir semua body part memenuhi syarat diambil sampel," tutur Agung.

(TribunJakarta.com, Bima Putra)

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved