Breaking News:

Soal Tudingan Banjir Kiriman dari Hulu, Bima Arya Ajak Anies Baswedan Lakukan Ekspedisi Ciliwung

Bima Arya menemukan timbulan sampah yang banyak sepanjang ekspedisi Ciliwung beberapa waktu lalu.

TribunnewsBogor.com/Lingga Arvian Nugroho
Untuk melakukan mitigasi derah rawan di pinggiran aliran sungai Bima Arya Sugiarto menyusuri pinggiran Ciliwung dengan menggunakan perahu karet. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan bahwa urusan banjir adalah urusan bersama agar tidak lagi terjadi saling menyalahkan.

Karena, menurut Bima, banjir yang terjadi harus dilihat dari berbagai aspek, baik hulu, tengah, hingga hilir dan perlu melibatkan sektor-sektor yang lebih terpadu.

“Setiap ada banjir besar pasti selalu ada isu kiriman. Ini harus diluruskan. Ini bukan soal saling menyalahkan tapi agar semua paham secara proporsional. Hulu ke hilir ini panjang, mulai dari Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Depok dan DKI Jakarta,” ungkap Bima Arya

“Perlu diingat bahwa Jakarta itu dialiri oleh 13 sungai, Ciliwung salah satunya. Ketika Jakarta kemarin banjirnya cukup besar, di Bendung Katulampa sebagai penunjuk ketinggian air itu baru siaga 4 hingga siaga 3. Artinya volume dari hulunya tidak besar. Jadi, menurut saya ada dua kemungkinan, curah hujannya lebih tinggi di Jakarta atau pengelolanya di Jakarta yang belum maksimal,” tambahnya.

Bima pun memaparkan hasil Ekspedisi Ciliwung dilakukan pada 10-11 November 2020 lalu.

Di mana ia dan Komunitas Peduli CIliwung mendapati temuan-temuan yang bisa jadi sebagai penyebab banjir di Jakarta.

Temuan yang didapat adalah titik timbulan sampah, pembuangan limbah, bangunan liar dan lain sebagainya.

Bahkan, saat pengarungan dengan jarak 70 kilometer menggunakan perahu karet tersebut, terlihat terjadi penyempitan sungai saat memasuki wilayah Jakarta.

Warna air pun tampak lebih keruh dan berbau.

Hasil temuan tim Ekspedisi CIliwung ini juga sudah disampaikan kepada pemerintah daerah yang dilintasi Sungai Ciliwung, DKI Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian PUPR, bahkan hingga Presiden.

“Kami mengarungi Ciliwung dari Bogor, transit di Depok kemudian lanjut hingga Pintu Air Manggarai, Jakarta. Kita menemukan 184 titik timbulan sampah. Yang dari Bogor sampai Depok hanya 34 titik. Sisanya yang 150 itu dari Depok sampai Jakarta. Selain timbulan sampah, juga ada bangunan liar, limbah dan lain sebagainya,” jelas Bima.

Halaman
12
Editor: Soewidia Henaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved