Breaking News:

Kisah Pilu Siswi SMK Hidup Sebatangkara di Gubuk Reot: Ibu Meninggal, Ayah Kawin Lagi

Keadaan yang memaksa dirinya harus bertahan hidup tanpa kasih sayang kedua orangtuanya.

Penulis: Damanhuri | Editor: Vivi Febrianti
Kolase Tribun Bogor/Tribun Banten
Siti Nuraida, pelajar SMK yang tinggal digubuk reot sejak bertahun-tahun 

Sebagian genting rumah yang berbentuk panggung itu tampak sudah berlumut.

Bocor sudah menjadi langganan di rumahnya ketika hujan mulai turun.

Rumah panggung Aida berlantai kayu dan bambu.

Saat melihat kebagian dalam rumah, tak tampak perabotan rumah tangga seperti lemari es maupun tempat piring dan gelas.

Baca juga: Cerita Gadis 17 Tahun Ditindih Satpam Klinik saat Menjaga Ibunya yang Sakit: Aku Teriak, Mama Bangun

Lemari pakaian pun hanya berbahan plastik.

Untuk memasak, Aida mengandal tungku dengan bahan bakar kayu di pekarangan rumah.

"Harapannya sih bisa dibongkar, karena takut tinggal di sini dalam keadaan ini. Apalagi kalau hujan kencang terkadang takut saja," ucapnya.

Kakak Kirim Uang Tiap Bulan

Kakak perempuan Aida yang kini kerja di Jakarta kerap mengirimkan uang untuknya setiap bulan.

Uang sebesar Rp 800 ribu tersebut untuk ketuhan sehari-hari serta biaya sekolah Aida dan Aisyah anak dari kakaknya.

Aida berusaha mengatur uang dari sang kakak agar cukup untuk biaya hidup satu bulan.

Tak jarang uang kiriman dari sang kakak datang terlambat dan memaksanya menahan lapar.

Aida tak mau mengeluh meski uang kiriman itu kurang mencukupi dan kadang datang terlambat.

Sebab, ia tidak ingin menyusahkan sang kakak yang tengah berjuang bekerja untuk mereka berdua.

"Kalau biaya hidup saya dikasih uang sama kakak saya yang sedang kerja di Jakarta. Dikirim Rp 800 ribu sebulan untuk kebutuhan sekolah dan makan," ungkapnya.

Baca juga: Pengakuan Predator Anak Perdaya Gadis Kecil saat Jajan di Warung: Minta Jatah ke Istri Gak Dikasi

Keluarga Aida pernah menawarkan Aida untuk tinggal di rumah mereka.

Namun, Aida memilih tinggal di rumahnya yang reyot itu karena merasa nyaman di rumah sendiri.

Kini, besar harapan Aida mendapat bantuan dari pemerintah daerah setempat untuk perbaikan rumahnya.

5 Tahun Pengajuan Tak Digubris

Kepala Desa Cimanggu, Suwardi mengatakan pihaknya telah mengajukan proposal permintaan bantuan ke Pemerintah Kabupaten Pandeglang untuk perbaikan rumah Aida selama lima tahun berturut-turut.

Ia tak menapik jika rumah yang dihuni oleh siswi SMK itu sudah tak layak huni.

Menurutnya, tempat tinggal yang ditempati Aida sudah sejak lama masuk kategori rumah tidak layak huni (RTLH).

"Jadi, rumah ini sebenarnya sudah tidak layak pakai, sudah diajukan beberapa kali ke dinas, tetapi tidak pernah digubris. Jadi, hingga saat ini belum terealisasikan," ujar Suwardi.

(TribunnewsBogor.com/Tribun Banten)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved