KABAR DUKA Lia Eden Meninggal Dunia, Foto-foto Terakhirnya Tuai Sorotan

Dilansir TribunnewsBogor.com dari akun kabar sejuk, Lia Eden meninggal dunia sejak dua hari lalu

Penulis: khairunnisa | Editor: Mohamad Afkar Sarvika
tribunnews
KABAR DUKA Lia Eden Meninggal Dunia, Foto-foto Terakhirnya Tuai Sorotan 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Lama tak terdengar kabarnya, Lia Aminudin atau yang dikenal dengan nama Lia Eden meninggal dunia.

Lia Eden meninggal dunia pada Jumat (9/4/2021).

Kabar berpulangnya Lia Eden pertama kali dibagikan oleh akun Serikat Jurnalis untuk Keberagaman yakni @kabarsejuk.

Nama Lia Eden sempat menggemparkan khalayak di tahun 2005.

Lia Eden kala itu menuai kontroversi lantaran membuat sekte Kerajaan Tuhan (God's King).

Kabarnya lama tak terdengar, Lia Eden pun baru-baru ini diisukan telah wafat.

Dilansir TribunnewsBogor.com dari akun kabar sejuk, Lia Eden meninggal dunia sejak dua hari lalu.

" Lia Eden (Lia Aminudin) yang sejak 1995 meyakini terus menerima bimbingan malaikat Jibril telah meninggal Jumat lalu (9/4)," tulis akun kabar sejuk hari ini, Minggu (11/4/2021).

Dalam unggahan akun tersebut, sosok Lia Eden pun dijabarkan dengan narasi panjang.

Narasi tersebut berisi cuplikan singkat sosok dan kasus apa saja yang pernah menjerat Lia Eden.

Lia Eden
Lia Eden (kolase)

"Di masa bulan madu negara-MUI, era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Lia Eden dipenjara dua kali (2006 dan 2008) dengan Pasal Penodaan Agama

Selamat jalan, Lia Eden. Beristirahatlah dalam kemenangan yang mahadamai. Estafet perjuanganmu berlanjut senantiasa: urusan setiap warga dengan Tuhannya tidak bisa dibatasi dan dikurangi oleh negara, apalagi dipenjara," tulis akun tersebut.

Tak hanya itu, foto-foto terakhir Lia Eden juga turut dimuat dalam kabar duka cita tersebut.

Tampak dalam foto yang diunggah, potret terakhir Lia Eden yakni di tahun 2018 dan 2019.

Dalam foto terlihat Lia Eden mengenakan kain putih dan mahkota dari bunga.

Lia Eden tampak tersenyum semringah ke arah kamera.

Hingga artikel ini ditayangkan, TribunnewsBogor.com masih mencari konfirmasi mengenai kabar Lia Eden meninggal dunia.

Baca juga: Lagi Asyik Party, Puluhan Pengunjung Tempat Hiburan Malam di Cileungsi Kalang Kabut Digerebek Polisi

Baca juga: Lompat dari Jembatan Merah Kota Bogor, Pria 30 Tahun Hanyut 5 Kilometer

Ajaran Lia Eden dan Kasus Hukum

Lia Eden ditangkap atas dugaan penodaan agama, menghasut, dan mengajak masyarakat untuk mengikuti ajarannya.

"Kami menahan karena memiliki cukup bukti sehubungan dengan tindakan yang dia lakukan dengan cara menyebarkan ajaran agama yang tidak benar," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah (Polda) Metropolitan Jaya Komisaris Besar Mochamad Jaelani, dilansir dari Harian Kompas edisi Jumat, 30 Desember 2005.

Menurut Jaelandi, tidak ada dalam ajaran agama bahwa nabi berasal dari etnis tertentu di Jakarta.

"Apalagi dia mengaku-aku sebagai Malaikat Jibril," kata Jaelani.

Lia ditahan karena diduga melanggar Pasal 156a dan 157 mengenai penodaan terhadap agama, menghasut, dan mengajak masyarakat mengikuti ajarannya.

Penangkapan Lia Eden bermula dari laporan warga sekitar yang sudah resah atas kegiatan yang mereka sebut berkaitan keagamaan.

Padahal, Wali Kota Jakarta Pusat bersama tokoh masyarakat serta tokoh agama sudah mengingatkan Lia untuk menghentikan kegiatannya itu.

Ribuan warga mengerumuni kediaman Lia Eden sejak Rabu sore.

Lia Eden, pimpinan sekte kerajaan Tuhan
Lia Eden, pimpinan sekte kerajaan Tuhan (Instagram)

Mereka memprotes penyebaran ajaran Lia, termasuk mengaku mendapat wahyu dari Malaikat Jibril dan mengklaim diri sebagai Imam Mahdi.

Polisi kemudian menangkap paksa Lia Eden dan para pengikutnya, meringkus mereka ke Polda Metro Jaya.

Setelah menjalani pemeriksaan selama satu hari, polisi hanya menetapkan Lia Eden sebagai tersangka.

Jauh sebelum penangkapan, Lia bikin geger pada 1997 ketika mengklaim diri telah mendapat wahyu dari Malaikat Jibril sehingga ia mempelajari aliran paranealis atau lintas agama.

Pada 1998, Lia yang terlahir sebagai agama Islam kemudian mempelajari agama Kristen.

Baca juga: Curiga Lihat Istri Raffi Ahmad Sering Nangis, Syahnaz Dapat Jawaban Tak Terduga dari Nagita Slavina

Baca juga: DIBUKA Lowongan Kerja di PT Indofood Minimal Lulusan SMA, Cek Syaratnya di Sini, Deadline 30 April

Dia juga merilis sebuah buku berjudul 'Perkenankan Aku Menjelaskan Sebuah Takdir' yang berisi mengenai aliran yang ia dalami.

Dia juga memahami reinkarnasi dari ajaran Hindu, mengklaim diri sebagai titisan Bunda Maria sekaligus menyatakan putranya, Ahmad Mukti, sebagai Yesus Kristus.

Tak cuma itu, Lia juga menerapkan beberapa aktivitas yang disebutnya ajaran agama Buddha seperti meditasi dan memahat patung.

Baru pada pertengahan 2000, Lia mendeklarasikan agama baru, Salamullah, sebagai penyatuan dari semua agama yang ia pelajari.

Beberapa ajaran Salamullah antara lain menyatakan shalat dalam dua bahasa sah, mengkonsumsi babi adalah halal, mengadakan ritual penyucian seperti menggunduli kepal, membakar tubuh, dan sebagainya.

Lia Eden Dihukum Penjara

Pada Kamis (29/6/2006), Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan vonis pidana penjara selama dua tahun kepada Lia Eden.

Putusan tersebut sejatinya lebih ringan dari tuntutan jaksa, yakni pidana penjara selama lima tahun.

Harian Kompas edisi Jumat (30/6/2006) melaporkan, Ketua Majelis Hakim Lief Sofijullah yang didampingi hakim Ridwan Mansyur dan Zulfahmi menyatakan Lia Eden bersalah dan terbukti melanggar hukum sesuai dakwaan kedua dan ketiga.

Dakwaan kedua mengandung unsur perbuatan penghinaan terhadap suatu golongan masyarakat, sedangkan dakwaan ketiga mengandung unsur perbuatan tidak menyenangkan terhadap orang lain.

Dakwaan kedua berdasarkan Pasal 157 Ayat (1) juncto Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), sedangkan dakwaan ketiga berdasarkan Pasal 335 Ayat (1) juncto Pasal 65 Ayat (1) KUHP.

Dakwaan pertama yang tidak terbukti didasarkan pada Pasal 156 a juncto Pasal 55 Ayat (1) KUHP.

Dalam dakwaan kesatu, Lia Eden didakwa di depan umum menyatakan perbuatan bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.

Majelis hakim menyatakan dakwaan pertama ini tidak terbukti karena pembuktian jaksa melalui perbuatan terdakwa di hadapanMajelis Ulama Indonesia (MUI) yang dipandang sebagai institusi, bukan sebagai perwakilan umat beragama.

Lia Eden sempat memprotes dan meminta untuk dibebaskan. Menurutnya, ia hanya menjalankan perintah Tuhan.

"Perkenankan saya memohon Pak Hakim membebaskan saja saya dari hukuman. Bangsa ini membutuhkan saya, agar tidak ada lagi bencana. Saya bersedia dihukum mati kalau perbuatan saya nanti terbukti," kata Lia Eden.

Pada akhirnya, Lia Eden menjalani masa hukuman sesuai vonis pengadilan.

Dia dibebaskan pada 30 Oktober 2007. Akan tetapi, Lia Eden kembali ditangkap polisi pada 15 Desember 2008 karena kasus serupa.

(TribunnewsBogor/Khairunnisa, Kompas.com)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved