Dilerai Saat Jambak Perawat RS di Palembang, Ayah Pasien Bentak Polisi : Lu Punya Anak Gak ?
Anggota Polisi tersebut datang untuk melerai. Baru saja datang, anggota Polisi itu justru dibentak.
Penulis: Sanjaya Ardhi | Editor: Mohamad Afkar Sarvika
TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Tak hanya pada perawat, ayah pasien yang mengamuk juga membentak seorang anggota Polisi.
Anggota Polisi tersebut datang untuk melerai.
Baru saja datang, anggota Polisi itu justru dibentak.
Christina Ramaulis perawat di RS Siloam Palembang menjadi korban kekerasan oleh ayah pasien.
Pada video yang beredar, Christina Ramaulis terlihat berlutut di hadapan JT.
"Dia merasa bersalah gak ? gak juga," kata JT dengan nada tinggi.
JT lantas menendang Christina Ramaulis sampai terjatuh.
Beberapa perawat yang ada di ruangan itu bahkan sampai histeris.
"Astgafirullah," teriak perawat.
Dua perawat lantas merangkul Christina Ramaulis untuk dibawa keluar.
Namun oleh JT, Christina Ramaulis justru dijambak.
"Jangan keluar," teriak JT.
JT terlihat menarik rambut Christina Ramaulis.

"Saya bilang jangan keluar, gak ada urusan ya," kata JT.
Lalu datang seorang pria mengenakan baju abu-abu dan celana pendek.
"Saya polisi, saya polisi," katanya.
JT lantas membentak anggota Polisi tersebut.
"Lu polisi ? lu punya anak gak ? kalau anak lu ," kata JT dengan nada tinggi.
"Gak gini, maksudnya jangan kaya gini," kata polisi.
Dikutip dari akun Instagram polisi_palembang, ayah pasien yang mengamuk bukanlah seorang anggota Polisi.
"yang merupakan anggota kepolisian adalah bapak-bapak yang menggunakan baju abu-abu dan celana pendek,
bapak tersebut mencoba menengahi permasalahan yang terjadi pada saat itu, di karenakan lokasi keributan berdekatan dengan kamar anggota polisi tersebut yang sedang menjaga istrinya lahiran.
sehingga anggota polisi tersebut mencoba mendatangi lokasi keributan dan menengahi permasalahan yang terjadi." tulisnya.
Sementara itu Kasubag Humas Polrestabes Palembang, Kompol M Abdullah pun mengatakan ayah pasien mengamuk saat meminta perawat mencabut infusan.
"(Aksi penganiayaan terjadi karena) cara ngelepasin infus, karena itu bukan wewenang dia (perawat) karena harus ada persetujuan dari dokter."
"Karena dia sebagai perawat jadi nggak bisa melepaskan begitu saja," kata Abdullah, dikutip dari tayangan Kompas TV.
Kasat Reskrim, Kompol Tri Wahyudi mengatakan pihaknya saat ini masih melakukan penyelidikan.
"Laporan sudah kita terima, untuk kejadian tersebut masih dalam penyelidikan kita. Hingga kini kita sedang memeriksa saksi-saksi di lapangan, untuk mengetahui masalah yang terjadi," ungkap Kompol Tri Wahyudi, Jumat (16/4/2021).

Kini anggota masih mengumpulkan data dan keterangan saksi-saksi di TKP (tempat kejadian perkara) dan terkait laporan korban, tentunya terlapor nanti akan kita periksa.
"Jika terbukti salah, akan kita proses," tegas Kasat Reskrim Polrestabes Palembang dikutip dari Sripoku.com.
Direktur RS Siloam Sriwijaya Palembang, dr Bona Fernando mengaku sangat menyayangkan kejadian tersebut.
"Intinya kami dari Siloam sangat menyesali perbuatan arogan orangtua pasien tersebut terhadap perawat kami," ujarnya kepada Tribun Sumsel.
CRS (28) diduga menjadi korban penganiayaan seorang pria keluarga pasien yang tengah dirawat di RS swasta tersebut, Kamis (15/4/2021).
Kasubbag Humas Polrestabes Palembang, Kompol M Abdullah pun menjelaskan kronologi kejadiannya.
Ia mengatakan anak terlapor merupakan pasien di RS tersebut.
Terlapor J tidak senang diduga korban tidak benar pada saat melepaskan infus di tangan anaknya lalu terlapor marah.
Terlapor kemudian memanggil korban untuk mendatangi kamar tempat anaknya di rawat.
Korban kemudian menemui terlapor bersama teman korban lainnya.
Setibanya di kamar tempat anak terlapor dirawat, teman-teman korban di suruh terlapor untuk keluar meninggalkan korban sendirian.
"Namun teman korban tidak mau keluar," kata Kompol Abdullah saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (16/4/2021), masih dikutip dari Tribun Sumsel.
Kemudian terlapor menanyakan bagaimana korban melepaskan selang infus di tangan anaknya.
Belum sempat korban menjawab terlapor langsung memukul muka sebelah kiri korban menggunakan tangannya.
Teman korban yang melihat aksi itu mencoba melerai, namun terlapor langsung mendekati korban dan kembali memukul muka korban menggunakan tangan kanannya.
Melihat keributan semakin memanas, petugas keamanan di TKP mencoba untuk melerai.
"Korban kemudian dibawa keluar, namun terjadi tarik menarik antara korban dan saksi hingga terlapor menarik rambut korban," katanya.
Kemudian korban berhasil keluar dan selanjutnya korban dibawa ke ruang emergency.
Akibat kejadian tersebut korban mengalami memar dibagian mata sebelah kiri, sakit bagian bibir dan perut.