Breaking News:

Teror Virus Corona

Mengenal Terapi Plasma Konvalesen, Diberikan untuk Pasien Covid-19 Gejala Berat, Ini Penjelasannya

Terapi plasma konvalesen menjadi satu dari beberapa metode penanganan pasien Covid-19.

Editor: Yuyun Hikmatul Uyun
Istimewa/Pemkot Bogor
Temanco (Wadah Penyintas Covid-19) dan Salam.id bersama PMI Kabupaten Bogor dan Radar Bogor kembali menggelar Aksi Donor Plasma Konvalesen batch ketiga di Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor, Jalan Siliwangi, Kota Bogor, Sabtu (13/3/2021). 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Selama pandemi Covid-19, mungkin Anda pernah mendengar terapi plasma Konvalesen. Apakah itu?

Terapi plasma konvalesen menjadi satu dari beberapa metode penanganan pasien Covid-19.

Terapi ini diberikan kepada pasien postif Covid-19 yang keadaannya sudah berat, terapi ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan gejala sedang atau ringan.

Lantas, apa itu terapi plasma konvalesen?

Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian RS Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), dr Tonang Dwi Ardyanto menyebutkan, plasma konvalesen telah dikenal lama sebagai salah satu metode terapi pada berbagai kondisi.

"Terutama pada situasi-situasi pandemi, di mana ada penyakit baru, kita belum banyak mengenal, maka dilakukan (terapi) dengan cara plasma konvalesen," ungkap Tonang saat dihubungi Tribunnews.com, Minggu (11/7/2021).

Tonang menyebut terapi plasma konvalesen berpijak pada pemahaman seorang penyintas infeksi, setelah sembuh akan membentuk antibodi dalam tubuhnya.

Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian RS UNS, dr Tonang Dwi Ardyanto saat menjadi narasumber Tribunnews
Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian RS UNS, dr Tonang Dwi Ardyanto saat menjadi narasumber Tribunnews (tangkap layar Youtube Tribunnews.com)

Antibodi itu, lanjut Tonang, akan disimpan dalam plasma darah orang tersebut.

"Dari hal itu kita berusaha membantu, kalau ada orang yang sedang kena infeksi sementara orang tersebut belum punya antibodi, maka kita bantu dengan cara memberikan plasma dari orang yang sudah sembuh dari suatu infeksi," jelas Tonang.

Sementara itu dalam infeksi Covid-19, acuannya adalah penyintas penyakit itu diharapkan sudah membentuk antibodi.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved