Breaking News:

Dibantu Relawan, Begini Cara Camat Bogor Timur Pantau Warga yang Isolasi Mandiri

Bima Arya memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Sistem Pemantauan Isolasi Mandiri di Teras Balai Kota, Jalan Ir H. Juanda, Kota Bogor.

Editor: Mohamad Afkar Sarvika
Istimewa/Pemkot Bogor
Wali Kota Bogor, Bima Arya memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Sistem Pemantauan Isolasi Mandiri di Teras Balai Kota, Jalan Ir H. Juanda, Kota Bogor, Senin (12/7/2021). Rapat dihadiri enam Camat se-Kota Bogor, Dinas Kesehatan (Dinkes) dan KNPI. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Wali Kota Bogor, Bima Arya memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Sistem Pemantauan Isolasi Mandiri di Teras Balai Kota, Jalan Ir H. Juanda, Kota Bogor, Senin (12/7/2021). Rapat dihadiri enam Camat se-Kota Bogor, Dinas Kesehatan (Dinkes) dan KNPI.

"Hari ini darurat semua, saya lihat pertarungannya di hulu, sementara di hilir sedang bahaya. Padahal kalau dari hilirnya tertangani dengan baik, tidak akan buruk. Gambaran saya relawan direkrut untuk membantu monitoring isoman di rumah," ujar Bima Arya.

Camat Bogor Timur, Rena Da Frina mengatakan, ada 375 rumah di Bogor Timur yang sedang Isolasi Mandiri (Isoman). Sesuai arahan Wali Kota Bogor, isoman warga di rumah melibatkan relawan, membagi tugas dan mengawasi.

"Di Bogor Timur ada 22 relawan kalau dibagi rata menangani sekitar 16 sampai 17 rumah, kondisi hari ini, tidak tahu kalau besok karena data dinamis," terangnya.

Wali Kota Bogor, Bima Arya memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Sistem Pemantauan Isolasi Mandiri di Teras Balai Kota, Jalan Ir H. Juanda, Kota Bogor, Senin (12/7/2021). Rapat dihadiri enam Camat se-Kota Bogor, Dinas Kesehatan (Dinkes) dan KNPI.
Wali Kota Bogor, Bima Arya memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Sistem Pemantauan Isolasi Mandiri di Teras Balai Kota, Jalan Ir H. Juanda, Kota Bogor, Senin (12/7/2021). Rapat dihadiri enam Camat se-Kota Bogor, Dinas Kesehatan (Dinkes) dan KNPI. (Istimewa/Pemkot Bogor)

Relawan ini, lanjut Rena, membantu tugas puskesmas yang saat ini hampir menyerah jika harus visit rumah satu persatu, karena tenaga kesehatan puskesmas pun terbatas.

Di sisi lain, kondisi saat ini rumah sakit penuh, stok oksigen menipis sehingga di wilayah memaksimalkan perawatan dan pemantauan mencegah pasien mengalami sakit parah.

"Kami selalu jemput bola mengingat angka kematian masih lumayan banyak. Tiga hari lalu pun ada enam pasien Covid-19 yang meninggal saat isoman" terangnya.

Ia menjelaskan, masih banyak warga isoman di rumah yang tidak melapor, tidak kooperatif dan membuat tim agak kesusahan, apalagi jika pasien meninggal dan tidak ada hasil swab. Padahal syarat pemulasaraan harus ada hasil swab.

"Tidak mungkin kan mayat kita swab, komitmen untuk melapor, kerja sama dari warga sangat dibutuhkan, agar tidak mempersulit tim puskesmas untuk tracing," imbuhnya.

Terkait obat-obatan dan vitamin kata Rena, diberikan by request atau sesuai permintaan, alias tidak semerta-merta ketika warga terkonfirmasi positif Covid-19 mendapat paket obat. Harus ada permintaan dari warga ke satgas atau dari RT/RW atau lurah kemudian disampaikan ke Puskesmas.

"Kalau ada permintaan dan stok obatnya aman, obat, vitamin akan langsung dikasih ke pasien karena kan obat-obatan juga tergantung keluhannya," jelasnya.

Ia menambahkan, camat, lurah serta Satgas Covid-19 selalu mobile, standby 24 jam. Telepon seluler atau handphone tidak boleh mati karena ini untuk koordinasi, antisipasi hal-hal yang terjadi di lapangan.

"Dan informasi harus terus update," katanya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved