Breaking News:

Penjualan Tembus 8 juta Ton, Indocement Optimis Signal Postif Berlanjut di Semester 2

Marcos mengungkapkan, untuk volume penjualan perseroan di luar Jawa tumbuh sebesar 10,6 persen dengan pangsa pasar 15,7 persen.

Editor: Damanhuri
istimewa
Semen Indocement 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk mencatat secara keseluruhan penjualan tembus hingga 8,0 juta ton pada periode semester 1 tahun 2021.

Direktur and Corporate Secretary Indocement, Antonius Marcos menerangkan, volume penjualan domestik (semen dan klinker) pada semester awal ini mengalami kenaikan

Marcos mengungkapkan, untuk volume penjualan perseroan di luar Jawa tumbuh sebesar 10,6 persen dengan pangsa pasar 15,7 persen.

"Penjualan itu meningkat sekitar 642 ton atau plus 8,8 persen dari periode ymg sama dotajun lalu yang menetapkan pangsa pasa perseroan menjadi 25,6 persen untuk semester pertama tahun 2021," ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (5/8/2021).

Ia melanjutkan, pertumbuhan di Jawa sebesar 3,0 persen dengan pangsa pasar 34,3 persen.

"Peningkatan di luar Jawa terutama berada di Sulawesi dengan pertumbuhan volume penjualan sebesar 61,3 persen dengan pangsa pasar 8,9 persen. Ini juga didukung oleh proyek smelter di Konawe, serta diikuti pertumbuhan penjualan di Kalimantan sebesar 15,7 persen dengan pangsa pasar 22,3 persen dan Sumatera sebesar 10,8 persen dengan pangsa pasar 13,1 persen," tutur Marcos.

Ia melanjutkan, pendapatan Neto Perseroan pun meningkat 8,0 Persen menjadi sekitar Rp6,7 miliar lebih besar dibandingkan semester I ditahun 2020 sebesar Rp6,1 miliar.

Marcos menyebut jika peningkatan ini utamanya disebabkan oleh peningkatan volume penjualan. Termasuk Beban Pokok Pendapatan yang juga meningkat sebesar 6,5 persen dari Rp-4.572,9 miliar menjadi Rp4.295,3 miliar seiring dengan pertumbuhan volume penjualan keseluruhan.

Marcos mengatakan, jika perseroan berhasil menjaga persentase kenaikan biaya lebih rendah dari persentase kenaikan volume penjualan meskipun terjadi peningkatan
harga batu bara.

Hal ini disebabkan oleh upaya berkelanjutan pada peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif dan batu bara bernilai kalori rendah (LCV), termasuk pengoperasian kiln-kiln yang paling efisien.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved