Polisi Gerebek Home Industri Tembakau Sintetis di Tangsel, Seorang Mahasiswa Dibekuk

Polisi menangkap tersangka LP (23) yang merupakan seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Ciputat

Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Damanhuri
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Polres Bogor rilis pengungkapan kasus peredaran narkoba biang tembakau gorila atau biang sintetis benilai puluhan Miliar Rupiah, Jumat (10/9/2021). 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Satuan Reserse Narkoba Polres Bogor gerebek home industri tembakau gorila atau sintetis di sebuah apartemen di wilayah Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan.

Polisi menangkap tersangka LP (23) yang merupakan seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Ciputat.

"Kita tangkap pada tanggal 26 Agustus 2021 di sebuah apartemen di Bintaro. Didapati barang bukti 3,6 kg biang sintetis dan 1,56 tembakau sintetis," kata Kapolres Bogor AKBP Harun, Jumat (10/9/2021).

Selain memproduksi tembakau gorila dari biang sintetis, tersangka LP ini juga mengedarkan tembakau gorila via media sosial.

"Dia sudah mengedarkan tembakau sintetis (gorila) siap pakai selama 1 tahun," kata Harun.

Diketahui, LP merupakan salah satu dari 7 tersangka jaringan narkoba tembakau sintetis yang ditangkap.

Kapolres Bogor AKBP Harun mengatakan bahwa dalam pengungkapan jaringan narkoba ini pihaknya berhasil menyita total barang bukti sebanyak 23 Kg biang sintetitis.

Jika 23 Kg biang sintetitis dijadikan tembakau, bisa mencapai sebanyak 800 kg tembakau gorila.

"Penjualannya 1 gram itu bisa sampai Rp 1 jutaan. Jadi kalau kita totalkan 23 kg itu kurang lebih Rp 23 Miliar nilainya," kata AKBP Harun dalam jumpa pers di Mapolres Bogor, Jumat (10/9/2021).

Dia menjelaskan bahwa biang sintetis ini diedarkan oleh pelaku melalui media sosial Instagram.

Kemudian metode pengirimannya dilakukan melalui perusahaan jasa pengiriman barang atau ekspedisi dengan cara dikamuflasekan bersama barang yang lain.

"Peredarannya sendiri sudah sampai ke luar jawa, juga ke Sumatra, ke Sulawesi," kata Harun.

Menurut pengakuan tersangka biang sintetis ini mereka dapat dari China namun, kata Harun, hal itu masih akan dikembangkan lebih lanjut.

"Barang-barang bukti biang sintetis ini masih kita dalami, ada kemungkinan dari China barangnya. Ini masih kita dalami lagi, kita kembangkan lagi," ungkapnya.

Para tersangka ini, kata Harun, dijerat Pasal 114 ayat 2, dan juga 112 ayat 2 UU No. 35 tahun 2009 dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara dan maksimal denda Rp 10 Miliar.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved