Mengintip Tradisi Perguruan Silat Cimande, Basuh Kaki Orangtua Pakai 3 Sumber Mata Air

Saung Pelestarian Penca Pusaka Cimande gelar tradisi sungkem dan basuh kaki orang tua, Senin (18/10/2021).

Penulis: Rahmat Hidayat | Editor: Damanhuri
TribunnewsBogor.com/Rahmat Hidayat
Santri silat cimande saat melakukan tradisi sungkem dan basuh kaki, Senin (18/10/2021) 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com Rahmat Hidayat

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CARINGIN – Saung Pelestarian Penca Pusaka Cimande gelar tradisi sungkem dan basuh kaki orang tua, Senin (18/10/2021).

Kegiatan sungkem yang digelar secara turun-temurun ini diikuti oleh 50 santri penca silat pusaka Cimande yang berlokasi di Saung Pelestarian Penca Pusaka Cimande mengatakan, aliran pencak Silat Cimande lahir di kampung Tarikolot, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor

Menurut Didih Supriadi, Ketua pelaksana acara mengatakan sungkem dan membasuh kaki orangtua merupakan tradisi serta merupakan rangkaian acara ‘Milangkala Saung Pusaka Cimande Ke-6’ sekaligus peringatan maulid Nabi Muhammad SAW.

Menurutnya, air yang digunakan pun tak sembarangan lantaran bersumber dari 3 mata air yang berbeda dengan tujuannya untuk memperkuat persatuan dan insan padepokan silat aliran Cimande.

"Kita satukan air dari maqom kasepuhan, patilsan kasepuhan, dan air zamzam. Insyaallah karomah dari sifat-sifat air bisa kita dapatkan sebagaimana manusia hidup terbentuk atas dasar air," kata dia.

Lebih jelas ia mengatakan, tradisi sungkem dan basuh kaki sebagai pengingat darimana kita berasal.

“Sesuai dengan jurus di aliran silat Cimande ini, dari 2 jadi 1. Artinya, kita harus menghormati kedua orang tua kita terutama Ibu. Kita lebih mengajarkan kepada adab santri penca silat cimande untuk menghormati orang tua,” tambahnya.

Acara yang digelar rutin ini menurut Didih tidak hanya bersifat seremonial semata.

“Acara intinya sebenarnya acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kita mengambil Milad Saung Penca disatukan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan tujuan untuk memperkuat rasa kebersamaan. Lebih daripada itu, acara ini digelar sebagai acara pengingat jati diri kita berasal darimana,” ungkapnya.

Nurkalina (34) salah satu wali santri penca silat pusaka Cimande mengatakan bahwa merasa terharu melakukan kegiatan tradisi sungkem dan basuh kaki.

“Alhamdulillah bersyukur. Disini saya sampai terharu banget. Kedua anak saya tidak mau lepas dari kaki saya pas sungkeman,” ucapnya kepada TribunnewsBogor.com, Senin (18/10/2021).

Saung Penca Pusaka Cimande ini didirikan pada tahun 2015 sebagai tempat olah raga dan olah rasa.

Menurut Nurkalina pengajaran saung penca silat pusaka Cimande sangat berpengaruh kepada anak-anaknya.

“Saya berterimakasih banget sama Abah Didih. Pengajaran di Saung Penca ini benar-benar terasa. Saya berharap sepulang dari sini, anak-anak saya tetap menjalani baktinya sebagaimana yang sudah diajarkan oleh Abah Didi,” sambung Nurkalina.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved