Breaking News:

Kuliner Bogor

Mengintip Dapur Manisan Pala Khas Bogor yang Berdiri Sejak 1971, Tetap Bertahan Ditengah Pandemi

Siapa sangka disebuah rumah yang beratapkan asbes gelombang terdapat sebuah produksi manisan pala kering dan basah rumahan.

TribunnewsBogor.com/Reynaldi Andrian Pamungkas
Pegawai Manisan pala Mindosari sedang memilih pala kering yang dijemur di rumah produksi manisan pala, Dramaga, Bogor 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Reynaldi Andrian Pamungkas

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, DRAMAGA - Siapa sangka disebuah rumah yang beratapkan asbes gelombang terdapat sebuah produksi manisan pala kering dan basah rumahan.

Produksi manisan pala rumahan ini berlokasi di Jalan Dramaga, Kampung Manggis RT2/4 No. 16, Desa Dramaga, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor.

TribunnewsBogor.com berkesempatan menyambangi langsung dapur tempat mengolah manisan pala khas Bogor ini sebelum diedarkan di pasaran.

Tercium wangi khas dari biji buah pala yang sudah dikupas dengan manisan pala yang terhampar dijemur sebanyak 500 kilogram (KG) pada teriknya sinar matahari siang itu, Rabu (24/11/2021).

Pemilik Manisan Pala Mindosari, Anton Hermawan mengatakan produksi manisan pala ini sejak tahun 1971 yang mulanya dikelola oleh ayah.

"Diteruskan oleh saya dari tahun 2012, maka ini generasi kedua," ujar ayah satu anak ini saat memilih buah pala, kepada TribunnewsBogor.com, Rabu (24/11/2021).

Terdapat dua jenis manisan pala yang diproduksi di Mindosari, manisan pala basah dan pala kering.

Manisan pala basah dijual dengan harga Rp32 sampai Rp38 ribu perkilogramnya sedangkan pala kering Rp40 ribu per kilonya.

Pria lulusan SMK Mekanika dengan jurusan Otomotif ini mengungkapkan sebelum pandemi Covid-19 penjualan manisan pala setiap bulannya 7 sampai 8 ton.

"Sejak pandemi Covid-19 setiap bulannya hanya produksi 1 ton manisan pala saja," tuturnya.

Manisan pala Mindosari ini dipasarkan ke pusat oleh-oleh diberbagai kota di Indonesia diantaranya Cianjur, Bandung dan Surabaya hingga diekspor ke Malaysia.

Produksi manisan pala rumahan ini memiliki 28 karyawan yang 15 orang diantaranya merupakan warga sekitar.

Pria yang memiliki hobi balap motor ini menyatakan penurunan penjualannya sangat turun saat pandemi Covid-19 ini hingga 70 persen.

"Bila ada PPKM lagi maka akan menyiasati penjualan dengan cara mengeluarkan semua penjualan yang ada, hingga penjualan saat PPKM tidak menurun," pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved