Breaking News

Cerita Penderita HIV/AIDS, Dewi Tak Patah Semangat Meski Kerap Dicemooh: Dukungan Keluarga Penting

Ia pun mengisahkan, selama 7 tahun ia bersama suami menjalani kehidupan baru sebagai pengidap HIV/AIDS.

Tayang:
Penulis: Rahmat Hidayat | Editor: Damanhuri
TribunnewsBogor.com/Rahmat Hidayat
Dewi sebagai salah satu penderita HIV/AIDS sekaligus penggiat sebaya penderita HIV/AIDS di Bogor. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com Rahmat Hidayat

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIAWI – Dewi salah satu penderita HIV/AIDS sekaligus penggiat sebaya penderita HIV/AIDS di Bogor menceritakan pengalaman hidupnya sejak divonis menderita penyakit HIV/AIDS.

Menurutnya, penderita HIV/AIDS jangan pernah patah semangat untuk mengejar mimpi-mimpinya.

“Dunia ini masih panjang. Kita sebagai penderita HIV ini bukan akhir segalanya tapi awal kebiasan baru kita mengonsumsi obat seumur hidup,” ucapnya kepada TribunnewsBogor.com di Ciawi, Kamis (2/12/2021).

Menurutnya, kondisi tersebut yang dideritanya kini bukanlah sebagai sesuatu yang mesti disesali.

Justru, menjadi acuan untuk tetap bisa menjalankan kehidupan sebagai mana mestinya.

“Kita dengan manusia normal sama saja. Sama sama bisa produktif. Sama-sama bisa berkarya. Bahkan mungkin bisa lebih,” tambahnya.

Ia pun mengisahkan, selama 7 tahun ia bersama suami menjalani kehidupan baru sebagai pengidap HIV/AIDS.

Berbagai tantangan bahkan cemoohan menemani kehidupan baru setiap hari.

Mulai dari cemoohan sosial, psikososial, serta membedakan perlakuan di berbagai tempat.

“Awal mulanya HIV di tahun 2015. Dimana saat itu saya sakit dan divonis oleh dokter TBC awalnya. Kemudian,dokter menyarankan untuk saya dan suami tes HIV dan hasilnya positif. Awalnya berat untuk menerimanya. Lingkungan sosial memang berpengaruh,” tambahnya.

Namun, cemoohan-cemoohan tersebut tidak terlalu dianggap olehnya.

Bahkan menurutnya, menjadikan keberanian untuk mempublikasikan kepada orang-orang.

“Alhamdulillah dapat dukungan dari keluarga. Keluarga selalu menjadi nomor satu dalam hal ini. Jadi, ya biasa aja cemoohan itu. Berkat hal tersebut saya berani mempublikasikan kepada orang-orang,” tambahnya.

Kendati demikian, ia mengingatkan kondisi yang dideritanya bersama penyandang lainnya bukan sesuatu yang harus dijauhi.

“Saya terus menggaungkan untuk semua tidak mendiskrimanasi penyandang penyakit HIV/AIDS. Bukan orangnya yang harus dijauhi tapi penyakitnya,” imbuhnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved