IPB University

Bahas Sistem Ternak Terpadu, IPB University Kumpulkan Ilmuwan Peternakan Indonesia

ICARE 2021 adalah komitmen IPB untuk terus berkontribusi pada komunitas ilmiah dan sosial melalui penyebaran hasil penelitian.

IPB University
Rektor IPB University Prof Arif Satria 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Fakultas Peternakan IPB University menggelar The International Conference on Sustainable Animal Resource and Environment (ICARE) 2021.

Konferensi ini merupakan kerjasama dari Fakultas Peternakan IPB University dengan Himpunan Ilmuwan Peternakan Indonesia (HILPI).

Dr Idat Galih Permana, Dekan Fakultas Peternakan IPB University dalam sambutannya menyampaikan bahwa ICARE 2021 adalah komitmen pihaknya untuk terus berkontribusi pada komunitas ilmiah dan sosial melalui penyebaran hasil penelitian.

Ia mengaku, hal ini penting untuk mengatasi dinamika ilmu hewan dan kepentingan luas pemangku kepentingan dalam industri hewan.

Rektor IPB University, Prof Arif Satria ketika membuka acara menyampaikan, kegiatan ICARE 2021 diharapkan dapat menjadi ajang sharing ilmu pengetahuan dan transfer teknologi antar negara.

“Di era pandemi COVID-19, bagaimana keberlanjutan industri peternakan karena efek buruk dari Covid-19 dan adanya disrupsi industri 4.0, sementara supply industri peternakan harus terus dilakukan,” kata Prof Arif Satria.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, melalui ICARE 2021, diharapkan akan menjadi ajang diskusi langkah-langkah masing-masing negara dalam perkembangan industri peternakan untuk mengatasi ketersediaan pangan hewani di bawah tekanan pandemi dan disrupsi.

Dalam kesempatan ini, Alumnus IPB University dari Fakultas Peternakan yang juga Wakil Gubernur Sumatera Barat, Ir Audy Joinaldy, mengungkap Program Sistem Ternak Terpadu di Wilayahnya.

Ia meyakini, Sistem Ternak Terpadu akan mampu mencukupi kebutuhan sumber pangan asal hewan di Sumatera Barat. Bahkan, sistem ini disinyalir mampu mengisi kebutuhan daging provinsi terdekat.

“Dalam data statistik gambaran perkebunan sawit di wilayah Sumatera sekitar 60 persen yang dikelola BUMN, 2 persen swasta dan 38 persen oleh petani. Dari data tersebut, terlihat potensi  yang dapat diintegrasikan dengan peternakan,” kata Audy Joinaldy.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bukti ilmiah terkait potensi hijauan untuk ternak yang bersumber dari perkebunan sawit.

Ia menyebut, ketika umur kelapa sawit mencapai lebih dari 10 tahun, dalam kurun waktu tersebut gulma akan tumbuh berkisar 5 ton dalam satu hektar setiap tahunnya.

Tidak hanya itu, potensi hijauan dari daun dan cabang saat panen sawit tiba juga menjadi sumber pakan yang potensial.

Dalam programnya ia melibatkan unsur pentahelix terdiri atas pemerintah , masyarakat (society), bisnis/investor (business), peneliti (knowledge), dan media.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved