Modus Ritual Bamandi, Tokoh Agama di Kalsel Lecehkan 11 Perempuan, 1 Korban Masih di Bawah Umur

Penetapan tersangka itu dilakukan setelah adanya seorang korban perempuan berinisial BA (30) melapor ke Polres HSS.

Editor: Vivi Febrianti
Kompas.com
Ilustrasi 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Seorang tokoh agama berinisial SA di Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan (Kalsel) harus berurusan dengan polisi.

Ia ditangkap karena diduga telah melecehkan 11 perempuan.

Kini SA telah ditetapkan sebagai tersangka.

Penetapan tersangka itu dilakukan setelah adanya seorang korban perempuan berinisial BA (30) melapor ke Polres HSS.

Demikian disampaikan oleh Kepala Seksi Humas Polres HSS, Iptu Purwadi.

"Hal itu dengan adanya laporan dari salah satu korban yang mengaku menjadi korban," katanya dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Selasa (4/1/2022).

Baca juga: Pernah Jadi Korban Pelecehan, Remaja 15 Tahun Cabuli 9 Anak Bawah Umur, Paksa Korban Turunkan Celana

Diketahui, oleh masyarakat setempat, SA dikenal sebagai tokoh agama.

Dari hasil penyelidikan, tercatat 11 perempuan telah menjadi korban kebejatan SA.

Salah satu korbannya bahkan masih di bawah umur.

"Bukan itu saja, menurut informasi yang dihimpun, telah tercatat 11 wanita menjadi korban bahkan salah satunya adalah anak di bawah umur," ungkapnya.

Modus Ritual Bamandi

Dilansir Kompas.com, Purwadi mengatakan, untuk melancarkan aksinya, tersangka meminta para korbannya untuk mengikuti ritual Bamandi atau mandi.

Hal tersebut terungkap dari pengakuan korban yang telah melayangkan laporan ke Polres HSS.

Baca juga: Soal Sopir Taksi Online yang Aniaya Penumpang, Polisi Sebut Tak Terjadi Pelecehan: Hanya Pegang Dagu

"Hal itu dengan adanya laporan dari salah satu korban berinisial BA (30), yang mengaku menjadi korban pelecehan saat mengikuti ritual Bamandi atau mandi," terangnya, Rabu (5/1/2022).

Menurut Purwadi, 10 korban lainnya belum melayangkan laporan ke Polres HSS diduga karen takut.

Sebab, tersangka merupakan tokoh agama yang cukup disegani.

"Untuk saat ini hanya satu orang yang berani melapor, sedangkan korban lainnya hingga saat ini terus dilakukan berbagai upaya untuk mau melaporkan apa yang dialaminya," ujarnya.

(Tribunnews.com/Nanda Lusiana, Kompas.com/Andi Muhammad Haswar)

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved