WHO Sebut Covid-19 Varian Omicron Bukan Menjadi yang Terakhir

Pimpinan Teknis Covid-19 Program Darurat Kesehatan WHO, Dr Maria Van Kerkhove menegaskan, Omicron bukan menjadi varian terakhir dari virus corona.

Editor: Yudistira Wanne
Syaibatul Hamdi/Pixabay
Ilustrasi Covid-19 atau virus corona. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menegaskan bahwa virus corona akan terus bermutasi.

Pimpinan Teknis Covid-19 Program Darurat Kesehatan WHO, Dr Maria Van Kerkhove menegaskan, Omicron bukan menjadi varian terakhir dari virus corona atau Covid-19.

"Ketika virus bersirkulasi memasuki tahun ketiga pandemi, dunia akan melihat lebih banyak lagi (varian virus corona)," jelasnya.

"Jadi, sangat tidak mungkin Omicron akan menjadi varian terakhir yang akan Anda dengar," ujarnya.

Itulah mengapa, dia menekankan, sangat penting bagi semua pihak untuk fokus pada populasi rentan di seluruh dunia untuk mendapatkan vaksinasi.

Menurut Van Kerkhove, Omicron, varian terbaru yang menjadi perhatian WHO, telah terdeteksi di seluruh dunia. Dan transmisinya efisien.

Di beberapa negara yang memiliki sirkulasi Omicron dalam beberapa minggu terakhir, varian yang sangat menular ini sudah mengambil alih peredaran virus corona, menggantikan Delta.

Pekan lalu, WHO mencatat, total ada hampir 10 juta kasus Covid-19 di dunia.

"Itu jumlah kasus (mingguan) tertinggi yang pernah kami lihat hingga saat ini," ujarnya.

Menurut Van Kerkhove, faktor utama mengapa peningkatan jumlah kasus Covid-19 global yang begitu tajam.

Tentu, kemunculan Omicron dan peredaran varian itu, yang menular antarmanusia dengan sangat efisien.

Ada beberapa alasan transmisi Omicron sangat efisien.

Pertama, mutasi yang dimilikinya.

Virus bisa menempel pada sel manusia dengan lebih mudah. ​​

Ia memiliki mutasi yang memungkinkannya melakukan itu.

Kedua, manusia memiliki apa yang disebut pelarian imun.

Ini berarti, orang bisa terinfeksi ulang, baik jika mereka terinfeksi sebelumnya ataupun telah divaksinasi.

Ketiga, replikasi Omicron ada di saluran pernapasan bagian atas manusia, dan itu berbeda dari Delta dan varian lainnya, termasuk strain asli yang ada di saluran pernapasan bagian bawah, di paru-paru.

"Jadi, kombinasi faktor ini memungkinkan virus menyebar lebih mudah," kata Van Kerkhove.

Hanya, berdasarkan data sejumlah negara dan beberapa penelitian, Van Kerkhove, risiko terkena penyakit parah atau memerlukan rawat inap akibat terpapar varian Omicron lebih kecil dibanding Delta.

"Bukan berarti penyakitnya ringan. Tapi, kalau terinfeksi, kemungkinan perlu rawat inap lebih kecil," tegas dia.(*)

Artikel ini telah tayang di Tribun-Bali.com dengan judul WHO Perkirakan Omicron Bukan Menjadi Varian Terakhir Virus Corona 

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved